Ayo ikut serta bersedekah dalam program wakaf tanah Timur Pondok Putri 1 Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo Jawa Tengah. , ...Selagi masih ada kesempatan... ✅ Luas tanah keseluruhan : 1.790 m2 ✅ Harga per meter : Rp. 531.000 ✅ Harga tanah keseluruhan : Rp 950.000.000 ✅ Donasi yang sudah terkumpul : Rp. 12.596.500 ✅ Kekurangan dana : Rp.937.403.500 Donasi wakaf bisa disalurkan dengan cara: A. Datang langsung ke kantor Ponpes Al Ukhuwah Mranggen RT 3/RW III, Kel. Joho, Kec./Kab. Sukoharjo, Jateng.. B. Melalui rekening : 1. BNI Cab. Slamet Riyadi, Solo No. Rek. : 0388645801 a.n. Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo 2. Bank Muamalat ( Kode Bank 147 ) No. 7560.10.0123456789 Virtual Account a.n. Wakaf Al Ukhuwah Setelah kirim, mhn konfirmasi via SMS/WA ke no HP bendahara Ponpes 0813 9251 5455 (Muflih AMB) dengan format : Wakaf/Nama/Alamat/Jumlah/Rekening Contoh: Wakaf/Abdulloh/Papua/Rp 1.000.000,-/BNI Info : Ust Ali Mukti 0852 3508 4141 / www.alukhuwah.com Selamat berpanen raya pahala ratusan tahun insyaAllah, meskipun umur Anda hanya puluhan tahun!

Fikih Ramadhan

Saudaraku Para Pembaca yang Budiman, sesungguhnya kita semua tengah menyambut tamu yang agung, tamu yang mulia, yang tidak datang kepada kita, kecuali satu kali saja dalam setahun. Tamu tersebut adalah Bulan Ramadhan. Bulan kebaikan, keberkahan, yang Allah lebihkan dari bulan-bulan yang lain, bulan yang di dalamnya diturunkan AlQur-an dan bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Maka, hendaknya bagi setiap muslim untuk berlomba-lomba memperbanyak amal shalih demi mendapat keutamaan bulan tersebut dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan, sehingga tidak termasuk orang yang merugi. Oleh karenanya, pada edisi kali ini –dengan izin dari Allah–Penulis akan sedikit membahas tentang: Fikih Ramadhan.

Amalan-amalan Shalih di Bulan Ramadhan

  1. Puasa

Puasa adalah menahan diri dari makan, minum, berhubungan dengan istri dan termasuk juga menahan diri dari ucapan kotor, perbuatan dzalim dan sebagainya, sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. [Syarhul Umdah libni Taimiyah, 1/23-24]

Puasa wajib bagi seorang muslim, baligh, berakal dan tidak ada penghalang baginya untuk berpuasa, seperti sakit, berpergian, atau yang selainnya. Allah berfirman:

(( يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ))

 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.[QS. AlBaqarah: 183]

  1. Qiyaamul Lail (Shalat Tarawih dengan Berjama’ah)

Terdapat dua jihad yang dilakukan oleh seorang mukmin ketika Ramadhan: Jihad di siang hari dengan berpuasa; dan Jihad di malam hari dengan Shalat Tarawih.

Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallam bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat malam pada bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.”[HR. Al Bukhari: 58, Muslim, no. 759]

 Dan hendaknya mengerjakan Shalat Tarawih bersama imam sampai selesai, karena Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,“Barangsiapa berdiri (mengerjakan Shalat Tarawih) bersama imam sampai selesai, dituliskan baginya shalat sepanjang malam.”[HR.At Tirmidzi (3/520), dishahihkan oleh AlAlbani dalam Irwa’ul Ghalil, no. 447]

  1. Memperbanyak Membaca AlQuran

Ramadhan adalah bulan diturunkannya AlQur-an, maka sudah semestinya kita memuliakannya dengan banyak membaca AlQur-an, merenungi dan mempelajari maknanya. Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallamsenantiasa membaca AlQur-an kepada Malaikat Jibril pada bulan tersebut. [Lihat. HR. Al Bukhari (1/30), Muslim, no. 3308]

4. Memperbanyak Sedekah

Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang dan kedermawanan, karena pahalanya dilipat gandakan. Marilah kita contoh nabi kita, Muhammadshallallahu ‘alaihi wasallam, beliau adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi padaBulan Ramadhan. Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang sangat pemurah, terlebih lagi ketika Ramadhan.” [HR. Al Bukhari no. 6, Muslim no. 2308]

  1. Umrah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,“Umrah di Bulan Ramadhan menyamai (pahala) haji bersamaku.”

Sama saja, baik di awal, di tengah, atau di akhir bulan. Tidak ada pengkhususan, bahwa yang lebih utama adalah pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan.

6.  I’tikaf (Mencari Malam Lailatul Qadar)

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. [AlInshaf fie Ahkaamil I’tikaf, Ali bin Hasan Al Halabi, hal. 5]

I’tikaf pada sepuluh hari terakhir Bulan Ramadhan hukumnya sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) [Lihat, QS. AlBaqarah: 187!] Sebagaimana hal ini juga telah dikerjakan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnul Qayyim berkata, “Allah mensyari’atkan i’tikaf, maksud dan intinya adalah agar hati lebih tenang dan menghadap kepada Allah, memusatkan hati, mendekatkan diri kepada-Nya dan menghilangkan kesibukan dengan manusia, hanya sibuk dengan Allah saja.” [Zaadul Ma’aad, 2/82]

Diantara maksud dari i’tikaf adalah mencari Malam Lailatul Qadar,suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Yang mana kita telah diperintahkan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam untuk mencarinya. [Lihat, HR. Al Bukhari, no. 2020]

 Kesalahan-kesalahan Pada bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia. Namun sangat disayangkan, ada sebagian ibadah yang tercampuri oleh beberapa ritual yang tidak ada dasarnya dalam agama. Diantaranya yang banyak tersebar di negeri kita adalah:

 Melafadzkan Niat

Tidak diragukan lagi, bahwa niat merupakan salah satu syarat sahnya ibadah, termasuk puasa. Hanya, perlu diketahui, bahwa niat tempatnya di dalam hati. Barangsiapa yang terlintas dalam hatinya, bahwa dia besok akan berpuasa, berarti dia telah berniat. Maka tidak perlu melafadzkan niat puasa di malam hari dengan mengucapkan: “Aku berniat puasa besok untuk melaksanakan kewajiban fardhu Puasa Ramadhan pada tahun ini karena Allah Ta’ala.”

Bacaan niat tersebut sangat masyhur, bahkan diucapkan secara berjama’ah di masjid setelah Shalat Tarawih, padahal tidak ada asalnya sama sekali dalam kitab hadits. [Lihat, Shifat Shaum Nabi, Syaikh Salim Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan, hal. 30]

 Menetapkan Waktu Imsak

Menetapkan waktu imsak untuk membatasi makan sahur dan mengumumkannya melalui pengeras suara merupakan perkara yang menyelisihi Sunnah. Padahal, syari’at memberi batasan bagi seseorang untuk makan sahur sampai Adzan Shubuh. Bahkan, syari’at menganjurkan untuk mengakhirkan sahur, sedangkan penetapan imsak, berarti memalingkan manusia dari menghidupkan Sunnah.

Kami memahami, bahwa maksud para pencetus imsak adalah sebagai bentuk kehati-hatian, agar jangan sampai kita ketika masuk waktu Shubuh orang-orang masih makan, atau minum. Akan tetapi, ini adalah perkara ibadah, sehingga harus berdasarkan dalil yang shahih. Dan tidak terdapat dalil yang shahih yang melandasi hal ini. [Fathul Bari (4/109) dan Fatawa Ibnu Utsaimin, hal. 670]

 Memperingati Nuzulul Qur-an

Pada tanggal 17 Ramadhan biasanya sebagian kaum muslimin mengadakan peringatan yang disebut dengan Perayaan Nuzulul Qur-an sebagai bentuk pengagungan kepada Kitab Suci AlQur-an. Namun, ritual tersebut perlu disorot dari dua segi:

Pertama, Dari segi sejarah.

Adakah bukti autentik, baik berupa dalil, atau sejarah, bahwa AlQur-an diturunkan pada tanggal tersebut?

Kedua, Anggaplah memang terbukti, bahwa AlQur-an diturunkan pada tanggal tersebut, namun menjadikannya sebagai perayaan butuh dalil dan contoh dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bukankah orang yang paling gembira dengan turunnya AlQur-an adalah Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnyaradhiyallahu ‘anhum?! Namun demikian, tidak pernah dinukil dari mereka tentang adanya perayaan semacam ini, maka ini menunjukkan, bahwa perayaan tersebut bukan termasuk dari Ajaran Islam.

Dan perlu diketahui, bahwa perayaan tahunan dalam Islam hanya ada dua:Iedul Fithri dan Iedul Adh-haa. [Lihat, HR. Ahmad (3/103)]

 Rahmat Allah Bagi Musafir Pada Bulan Ramdhan

Musafir (orang yang sedang dalam perjalanan/safar) berbeda keadaannya dengan orang yang sedang berada di tempat tinggalnya. Musafir menanggung resiko lapar, lelah dan beratnya perjalanan. Karena rahmat-Nya, Allah memberikan kemudahan seorang yang bersafar, atau sakit untuk tidak berpuasa pada Bulan Ramadhan, tetapi harus menggantinya pada hari lain. Begitu juga wanita hamil, atau menyusui, boleh tidak berpuasa pada Bulan Ramadhan, apabila membahayakan kesehatannya.

Allah berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”[QS. AlBaqarah: 185]

Jangan Nodai Bulan Ramadhan

Ada sebagian orang yang berpuasa, tetapi masih banyak kesalahan yang ia kerjakan. Misalnya, menjadikan malam seperti siang dan sebaliknya, meninggalkan shalat berjama’ah bagi kaum laki-laki, berlebih-lebihan dalam makan, mengumbar mata dan telingga serta lisan untuk yang haram, menghabiskan waktu dengansia-sia, menyalakan kembang api atau mercon dan yang semisalnya. Padahal, Nabishallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta (waktu berpuasa), maka Allah tidak membutuhkan lapar dan hausnya (puasanya).”[HR. Al Bukhari (7/185)]

Hadits-hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Bulan Ramadhan

Telah shahih dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Beliau telah bersabda, “Barangsiapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaknya dia bersiap-siap mengambil tempat duduk di Neraka.”[HR. Al Bukhari dan Muslim]

Berangkat dari hadits ini, kami terdorong untuk membuat bab ini sebagai nasehat dan peringatan kepada kita agar tidak  berdusta atas nama Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, menceritakan dan mengamalkannya.

Berikut ini beberapa contoh hadit lemah dan palsu yang banyak tersebar di masyarakat, padahal tidak shahih dari Nabishallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya:

  1. “Seandainya hamba-hamba tahu apa yang ada di Bulan Ramadhan, pasti umatku akan berangan-angan agar Ramadhan itu jadi satu tahun seluruhnya, sesungguhnya Surga dihiasi untuk Ramadhan dari awal tahun kepada tahun berikutnya…” [Hadits ini dihukumi mungkar oleh Syaikh AlAlbani. Lihat,Silsilah Hadits Dha’ifah (3/493)]
  1. “Berpuasalah, maka kamu sekalian sehat.”[Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh AlAlbani. Lihat,Silsilah Hadits Dha’ifah (1/420)]
  1. “Orang yang berpuasa adalah tetap di dalam ibadah, meskipun dia terbaring tidur di atas tempat tidurnya.” [Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh AlAlbani. Lihat, Silsilah Hadits Dha’ifah (2/106)]
  1. “Berbuka puasa dengan do’a:

 

اللَهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

[Hadits ini dilemahkan oleh Syaikh AlAlbani. Lihat, Silsilah Hadits Dha’ifah(20/402)]

Akhirnya, kita berdo’a kepada Allah agar senantiasa memberikan kepada kita taufiq dan hidayah-Nya, sehingga kita tetap istiqamah dalam beribadah kepada-Nya, di Bulan Ramadhan, maupun di luar Bulan Ramadhan. Dan semoga Allah menerima amal-amalan kita dan menghapuskan dosa-dosa kita, aamiin…

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا و َمِنْكُمْ

 “Semoga Allah menerima amal ibadah kami dan anda sekalian..”

Oleh: Abu Sahl Feri AlKadawy

You May Also Like