Ayo ikut serta bersedekah dalam program wakaf tanah Timur Pondok Putri 1 Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo Jawa Tengah. , ...Selagi masih ada kesempatan... ✅ Luas tanah keseluruhan : 1.790 m2 ✅ Harga per meter : Rp. 531.000 ✅ Harga tanah keseluruhan : Rp 950.000.000 ✅ Donasi yang sudah terkumpul : Rp. 12.596.500 ✅ Kekurangan dana : Rp.937.403.500 Donasi wakaf bisa disalurkan dengan cara: A. Datang langsung ke kantor Ponpes Al Ukhuwah Mranggen RT 3/RW III, Kel. Joho, Kec./Kab. Sukoharjo, Jateng.. B. Melalui rekening : 1. BNI Cab. Slamet Riyadi, Solo No. Rek. : 0388645801 a.n. Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo 2. Bank Muamalat ( Kode Bank 147 ) No. 7560.10.0123456789 Virtual Account a.n. Wakaf Al Ukhuwah Setelah kirim, mhn konfirmasi via SMS/WA ke no HP bendahara Ponpes 0813 9251 5455 (Muflih AMB) dengan format : Wakaf/Nama/Alamat/Jumlah/Rekening Contoh: Wakaf/Abdulloh/Papua/Rp 1.000.000,-/BNI Info : Ust Ali Mukti 0852 3508 4141 / www.alukhuwah.com Selamat berpanen raya pahala ratusan tahun insyaAllah, meskipun umur Anda hanya puluhan tahun!

Kisah Ashabul Ukhdud

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit, dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, dari Suhaib, bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam. pernah menceritakan kisah berikut. Dahulu kala di kalangan orang-orang sebelum kamu terdapat seorang raja yang mempunyai seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah lanjut usia, ia berkata kepada rajanya, “Sesungguhnya usiaku telah lanjut dan tidak berapa lama lagi ajalku akan tiba, maka berikanlah kepadaku seorang pemuda yang akan kuajari ilmu sihir.”

Maka raja menyerahkan kepada tukang sihir itu seorang pemuda untuk diajarinya ilmu sihir. Dan tersebutlah di antara rumah penyihir dan raja terdapat seorang rahib; maka bila si pemuda akan pergi ke rumah penyihir, terlebih dahulu ia mampir ke rumah si rahib dan mendengarkan perkataannya yang memikat hati si pemuda itu. Tersebutlah pula bahwa apabila si pemuda itu datang ke tempat penyihir, maka penyihir memukulnya seraya berkata.”’Apakah yang membuatmu datang terlambat?” Dan apabila pemuda itu pulang ke rumah keluarganya, maka mereka memukulnya pula seraya bertanya.”Mengapa kamu pulang terlambat?”

Kemudian si pemuda mengadukan hal tersebut kepada si rahib. Maka rahib memberinya petunjuk, “Apabila tukang sihir itu hendak memukulmu, katakanlah kepadanya bahwa keluargamu yang membuatmu datang terlambat. Dan apabila keluargamu hendak memukulmu. maka katakanlah kepada mereka bahwa si tukang sihirlah yang membuatmu pulang terlambat.”

Pada suatu hari si pemuda itu mendatangi seekor hewan yang besar lagi mengerikan, hewan itu menghalang-halangi jalan yang dilalui oleh manusia sehingga mereka tidak dapat melewatinya. Maka si pemuda itu berkata, “Pada hari ini aku akan mengetahui apakah perintah rahib yang lebih disukai oleh Allah ataukah perintah si tukang sihir.”

Si pemuda memungut sebuah batu dan berdoa, “Ya Allah, jika perintah rahib lebih disukai oleh Engkau dan lebih Engkau ridai daripada perintah si tukang sihir, maka bunuhlah hewan yang mengerikan ini agar manusia dapat melalui jalannya,” lalu ia melemparkan batu itu ke arah hewan tersebut dan mengenainya sampai mati, maka orang-orangpun dapat melewati jalannya seperti biasa.

Pemuda itu menceritakan hal tersebut kepada si rahib, maka si rahib berkata, “Hai anakku, engkau lebih utama daripada aku, dan sesungguhnya engkau akan mendapat cobaan, maka jika engkau mendapat cobaan, janganlah engkau menunjukkan tempatku berada.”

Tersebutlah bahwa pemuda itu dapat menyembuhkan penyakit buta, penyakit supak, dan penyakit-penyakit lainnya yang sulit disembuhkan. Dan tersebutlah bahwa si raja mempunyai teman sekedudukan yang terkena penyakit kebutaan. Ketika teman raja itu mendengar perihal si pemuda yang dapat menyembuhkan segala penyakit. maka ia datang kepadanya dengan membawa banyak hadiah seraya berkata, “Sembuhkanlah aku dari penyakitku ini. maka aku akan memberimu segala sesuatu yang ada di sini.” Si pemuda menjawab, “Aku bukanlah orang yang dapat menyembuhkan melainkan yang menyembuhkan hanyalah Allah Swt. Maka jika engkau mau beriman kepada-Nya. aku akan mendoakanmu kepada-Nya, dan Dia akan menyembuhkanmu.”

Teman raja itu mau beriman, maka si pemuda berdoa kepada Allah, kemudian dengan serta merta teman raja itu sembuh saat itu juga. Lalu teman raja itu datang lagi kepada raja dan duduk bersamanya sebagaimana biasanya. Si raja merasa kaget dan bertanya, “Hai Fulan, siapakah yang mengembalikan pandangan matamu menjadi seperti sedia kala?” Teman raja menjawab, “Tuhanku.” Si raja bertanya, “Apakah itu aku?” Teman raja menjawab, “Bukan, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Raja bertanya, “Apakah engkau mempunyai tuhan lain selain aku?” Teman raja menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Maka raja terus-menerus menyiksa temannya itu, hingga pada akhirnya teman raja itu menunjukkan kepada si pemuda. Maka pemuda itu dipanggil menghadap kepada raja, dan raja berkata kepadanya, “Hai anakku, telah sampai kepadaku bahwa ilmu sihirmu mencapai tingkatan dapat menyembuhkan sakit buta, sakit supak, dan segala macam penyakit.” Si pemuda menjawab, “Aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, sesungguhnya yang menyembuhkan hanyalah Allah Swt.” Si raja bertanya, “Dia adalah aku bukan?” Si pemuda menjawab, “Bukan.” Raja bertanya, “Apakah engkau mempunyai tuhan selain aku?” Pemuda menjawab, “Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Maka si raja itu pun menyiksa si pemuda dan terus-menerus menginterogasinya hingga pada akhirnya terpaksa si pemuda menunjukkan kepada si rahib, maka si rahib ditangkap dan dihadapkan kepada raja. Raja berkata kepadanya, “Tinggalkanlah agamamu itu.” Si rahib menolak’, maka raja meletakkan gergaji di tengah kepalanya dan membelah tubuhnya hingga terbelah.

Kemudian si raja berkata kepada temannya yang tadinya buta itu, “Tinggalkanlah agamamu!” Ia menolak, maka diletakkan pula gergaji di atas kepalanya, lalu tubuhnya dibelah menjadi dua dan jatuh ke tanah. Raja berkata kepada si pemuda, “Tinggalkanlah agamamu itu.” Si pemuda menolak, maka raja menyuruh sejumlah orang untuk membawanya ke atas sebuah gunung, dan berpesan kepada mereka, “Apabila kamu telah mencapai puncaknya, ancamlah dia. Maka jika dia mau meninggalkan agamanya, biarkanlah. Tetapi jika menolak. lemparkanlah ia dari puncaknya.”

Maka mereka membawa si pemuda itu. Dan ketika mereka telah sampai di puncak gunung tersebut bersama si pemuda itu, maka si pemuda berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau kehendaki.” Maka dengan tiba-tiba bumi mengalami gempa sangat kuat mengguncangkan mereka, sehingga mereka semuanya terjatuh dari puncak gunung itu.

Kemudian si pemuda itu datang kembali kepada raja. Setelah mendapat izin masuk, lalu pemuda itu menemui raja, dan raja bertanya kepadanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh orang-orang yang membawamu?” Si pemuda menjawab, “Allah Swt. telah menyelamatkan aku dari mereka.” Lalu raja mengirim sejumlah orang untuk membawa pemuda itu ke laut, seraya berpesan kepada mereka, “Jika kalian telah sampai di tengah laut, dan ternyata dia mau meninggalkan agamanya, maka biarkanlah dia. Tetapi jika ia tetap membangkang, maka lemparkanlah dia ke laut.” Lalu mereka menempuh jalan laut dengan membawa si pemuda itu. Ketika sampai di tengah laut, si pemuda berdoa, “Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka dengan cara yang Engkau sukai.” Maka mereka semua tenggelam ke dalam laut itu.

Pemuda itu kembali datang dan menghadap kepada’raja, dan raja bertanya, “Apakah yang telah dilakukan oleh orang-orang yang membawamu?” Pemuda itu menjawab, “Allah Swt. telah menyelamatkan diriku dari mereka.”

Kemudian si pemuda itu berkata lagi kepada si raja, “Sesungguhnya engkau tidak akan dapat membunuhku sebelum melakukan apa yang akan kuperintahkan kepadamu. Jika engkau lakukan apa yang kuperintahkan kepadamu, niscaya engkau dapat membunuhku; dan jika tidak, maka selamanya engkau tidak akan dapat membunuhku.”

Raja bertanya, “Bagaimanakah caranya?” Pemuda itu menjawab, “Engkau kumpulkan semua manusia di suatu lapangan, kemudian engkau salib aku di atas balok kayu dan engkau ambil sepucuk anak panah dari wadah anak panahku, kemudian ucapkanlah, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan si pemuda ini.” Maka sesungguhnya jika engkau lakukan hal itu, barulah engkau dapat membunuhku.”

Raja melakukan apa yang disarankan oleh si pemuda itu dan memasang anak panah pemuda itu di busurnya, kemudian ia bidikkan ke arah pemuda tersebut dengan mengucapkan, “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan si pemuda ini.” Maka panah melesat dan mengenai pelipisnya, lalu si pemuda memegang pelipisnya yang terkena panah itu dan meninggal dunia saat itu juga.

Maka semua orang yang hadir berkata, “Kami beriman kepada Allah, Tuhan si pemuda ini.” Dan dikatakan kepada raja.”Sekarang engkau baru menyaksikan apa yang engkau sangat mengkhawatirkannya.

Sesungguhnya, demi Allah, kamu telah dikalahkan karena semua orang telah beriman.” Raja sangat berang, lalu ia memerintahkan agar di tengah jalan dibuat galian parit yang cukup dalam dan dinyalakanlah api di dalam parit itu. Lalu raja berkata, “Barang siapa yang mau meninggalkan agamanya, biarkanlah dia. Dan jika tidak ada, maka masukkanlah mereka semuanya ke dalam parit itu.”

Tersebutlah bahwa mereka berlari-lari menuju ke parit itu dan saling berdesakan untuk paling dahulu masuk ke dalamnya. Dan datanglah seorang ibu yang membawa anak laki-laki yang masih disusuinya, maka seakan-akan si ibu enggan untuk menjatuhkan dirinya ke dalam parit yang penuh dengan api itu. Maka bayi yang digendongnya itu berkata.”Hai Ibu, bersabarlah karena sesungguhnya engkau berada di jalan yang benar.”

 

Sumber Tafsir Ibnu Katsir

You May Also Like