Ayo ikut serta bersedekah dalam program wakaf tanah Timur Pondok Putri 1 Ponpes Al Ukhuwah Sukoharjo Jawa Tengah. , ...Selagi masih ada kesempatan... ✅ Luas tanah keseluruhan : 1.790 m2 ✅ Harga per meter : Rp. 531.000 ✅ Harga tanah keseluruhan : Rp 950.000.000 ✅ Donasi yang sudah terkumpul : Rp. 12.596.500 ✅ Kekurangan dana : Rp.937.403.500 Donasi wakaf bisa disalurkan dengan cara: A. Datang langsung ke kantor Ponpes Al Ukhuwah Mranggen RT 3/RW III, Kel. Joho, Kec./Kab. Sukoharjo, Jateng.. B. Melalui rekening : 1. BNI Cab. Slamet Riyadi, Solo No. Rek. : 0388645801 a.n. Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo 2. Bank Muamalat ( Kode Bank 147 ) No. 7560.10.0123456789 Virtual Account a.n. Wakaf Al Ukhuwah Setelah kirim, mhn konfirmasi via SMS/WA ke no HP bendahara Ponpes 0813 9251 5455 (Muflih AMB) dengan format : Wakaf/Nama/Alamat/Jumlah/Rekening Contoh: Wakaf/Abdulloh/Papua/Rp 1.000.000,-/BNI Info : Ust Ali Mukti 0852 3508 4141 / www.alukhuwah.com Selamat berpanen raya pahala ratusan tahun insyaAllah, meskipun umur Anda hanya puluhan tahun!

Coklat Bulan Februari

Coklat Bulan Februari

 

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat ‘Rahmah’ (Kasih Sayang), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diutus sebagai ‘rahmatan lil ‘alamin’ (Kasih sayang bagi seluruh alam semesta) dan Ahlus Sunnah adalah ‘A’lamun-naasi bil-haqqi wa arhamuhum bil-khalqi’ (Orang yang paling mengilmui Al Haq dan paling kasih sayang terhadap makhluk), maka Islam pun adalah Agama Kasih Sayang.

 

Imam Al Bukhary meriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para shahabatnya radhiyallahu ‘anhum, ketika itu menjumpai seorang ibu yang sedang menyusui bayinya, “Apakah menurut kalian wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Para shahabat radhiyallahu ‘anhum menjawab, “Tidak mungkin, dia tidak akan mampu untuk melemparnya.” Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah lebih menyayangi hamba-hamba-Nya dari pada wanita menyayangi anaknya.” [HR. Al Bukhary]

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih kasih sayang kepada keluarga dibandingkan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” [HR. Muslim]

Agama Islam mengajarkan kasih sayang, bukan hanya kepada manusia saja, akan tetapi kepada seluruh makhluk pada umumnya, termasuk kepada binatang, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

الرَّاحِمُونَ يَرْحَمْهُمُ الرَّحْمنُ اِرْحَمُوْا مَنْ فِيْ الأرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِيْ السَّمَاءِ

Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang di bumi, niscaya Yang ada di langit (Allah) akan menyayangimu![HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi]

Hari Kasih Sayang

Tanggal 14 Februari yang identik dan dikenal sebagai Valentine’s Day atau Hari Kasih Sayang. Kita saksikan begitu banyak pemuda-pemudi merayakannya dengan berpesta, saling memberi bingkisan atau sekedar mengucapkan selamat diantara mereka.

Jika yang merayakannya adalah pemuda-pemudi non Muslim, maka tidak masalah. Akan tetapi, jika para pemuda-pemudi Muslim, bolehkah ikut merayakan Hari Valentine?

Jati Diri Seorang Muslim

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, akan kami jelaskan beberapa hal sikap yang sepantasnya dimiliki oleh seorang Muslim.

(1)   Seorang muslim tidak boleh mengikuti ritual dan perayaan agama, selain dari Islam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

(( قُلْ يَاأَيُّهَا الْكَافِرُونَ – لآَأَعْبُدُ مَاتَعْبُدُونَ – وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ – وَلآَأَنَا عَابِدُُ مَّاعَبَدتُّمْ – وَلآَأَنتُمْ عَابِدُونَ مَآأَعْبُدُ – لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ ))

“Katakanlah, ‘Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku samba. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” [QS. Al Kafirun, 1-5]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Surat ini adalah surat (yang menjelaskan tentang) berlepas diri dari amalan yang dilakukan orang-orang musyrik dan memerintahkan untuk ikhlas dalam berlepas diri tersebut.”

Ada beberapa tafsiran ulama tentang Surat Al Kafirun ayat 2 sampai 5, diantaranya:

  1. Aku tidak menjalankan ritual ibadah yang kamu jalankan (wahai orang kafir), aku hanya menjalankan ritual ibadah yang Allah cintai dan ridhai. Sedangkan kamu (wahai orang kafir) tidak mengikuti perintah Allah dan ajaran-Nya, akan tetapi kamu beribadah dengan ritual ibadah yang kamu buat-buat sendiri;
  2. Aku tidak menyembah apa yang kamu sembah, baik dahulu maupun yang akan datang.

(2)  Seorang Muslim tidak boleh menyerupai orang kafir, baik dalam agama, maupun adat kebiasaan khusus mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari golongan mereka.” [HR. Abu Dawud, Dishahihkan Syaikh Al Albani]

Hadist ini mengandung makna pujian, maupun celaan. Pujian bagi siapa saja yang menyerupai orang-orang baik dan celaan bagi siapa saja yang menyerupai orang-orang yang buruk, seperti menyerupai orang kafir, karena orang kafir adalah orang yang paling buruk. Sebagaimana disebutkan di dalam Surat Al Bayyinah.

(3) Seorang Muslim mengutamakan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alayhi wasallam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

(( وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ …))

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” [QS. Al Baqarah, 165]

Allaj juga berfirman, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan rasul-Nya, serta berjihad di jalan Nya, maka tunggulah (‘adzab Allah) sampai Allah memberikan keputusan-Nya (membinasakan orang-orang yang mencintai 8 hal tersebut lebih dari mencintai Allah).” [QS. At Taubah, 24]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak sempurna iman kalian, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia suka untuk dirinya sendiri.” [HR. Al Bukhary dan Muslim]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu tidak akan beriman, sampai aku menjadi orang yang lebih dia cintai, melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” [HR. Al Bukhary dan Muslim]

Demikian, sehingga orang yang beriman mencintai sesuatu karena Allah mencintainya dan membenci sesuatu karena Allah membencinya.

(4)  Seorang Muslim tidak boleh bersikap lunak kepada Orang Kafir dalam masalah yang prinsip dengan ikut, serta dalam hari raya mereka.

Allah berfirman,

(( فَلاَ تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ – وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ ))

“Maka, janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah! Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak, lalu mereka bersikap lunak pula.” [QS. Al Qalam, 8-9]

Hari Raya Kaum Muslimin

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam datang dan ketika itu penduduk Madinah memiliki dua hari raya. Pada zaman jahiliyah mereka merayakannya dengan bermain pada hari tersebut, lalu Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Aku datang kepada kalian dan pada kalian ada dua hari raya yang kalian bermain di zaman jahiliyah. Dan Allah telah menggantikannya dengan yang lebih baik dari keduanya, yaitu Hari Nahr (‘Iedul Adha) dan Hari Fithr (‘Idul Fithri).” [HR. Ahmad, An Nasaa-i, Abu Dawud, Dishahihkan oleh Syaikh ‘Ali Hasan Al Halaby dalam Ahkamul ‘Iedain]

Dari hadits ini para ulama menetapkan hukum, bahwa hari raya (tahunan) yang diakui dan dibenarkan dalam Islam hanya ada dua, yaitu ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adhaa. Kita tidak boleh merayakan hari besar, selain dari dua hari raya tersebut. Karena, jika kita merayakan hari raya selain dua hari raya tersebut, maka sama saja kita merayakan sebuah ajaran yang tidak pernah disyari’atkan Agama Islam.

Hukum Merayakan Hari Valentine

Setelah memahami penjelasan tersebut, maka dapat disimpulkan, bahwa kaum muslimin tidak boleh ikut merayakan Hari Valentine dengan beberapa alasan sebagai berikut:

  1. Ikut merayakan Hari Valentine bertentangan dengan firman Allah dalam Surat Al Kafirun.

Karena, ketika kita ikut merayakannya, berarti kita merayakan ritual orang kafir.

  1. Ikut merayakan Hari Valentine merupakan perbuatan yang menyerupai orang kafir dalam melaksanakan ritual agama mereka.

Sedangkan kita dilarang menyerupai orang kafir dalam perkara-perkara yang menjadi ciri khas mereka.

  1. Ikut merayakan Hari Valentine, berarti merayakan Hari Raya Non Muslim.

Apalagi di dalamnya terdapat banyak kemaksiatan, terutama yang berkaitan dengan masalah hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.

  1. Ikut merayakan Hari Valentine termasuk tolong-menolong dalam mengerjakan perbuatan dosa.

Karena dengan ikut merayakannya, secara tidak langsung kita ikut membantu melanggengkan hari raya orang kafir tersebut.

  1. Ikut merayakan Hari Valentine bertentangan dengan Prinsip ‘Cinta karena Allah’.

Dengan ikut merayakan Valentine’s Day, secara tidak langsung kita mencintai orang kafir, atau paling tidak kita mencintai perbuatan orang kafir, karena Hari Valentine diperingati dalam rangka mengenang kematian orang kafir yang dianggap ‘suci’ di kalangan mereka.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kaum muslimin dari tipudaya musuh-musuh Islam dan memberikan hidayah. Khususnya, kepada para pemuda-pemudi kaum muslimin, agar tetap teguh di atas Agama Islam berdasarkan Al Qur-an dan Al Hadits sesuai dengan pemahaman para shahabat radhiyallahu ‘anhum, tabi’ien dan para ulama yang mengikuti mereka, hingga Hari Kiamat, aamien …

Oleh : : Fajri Nur Setyawan

 

Sumber : http://alminhaj-dakwahsukoharjo.blogspot.co.id

You May Also Like