Kami ucapkan... Jazaakumullohu khoiron wa baarokallohu fii ahlikum wa maalikum kepada seluruh muhsinin / donatur yang telah ikut berpartisipasi dalam program wakaf pembebasan tanah (sebelah timur) Ponpes Al Ukhuwah Putri I Sukoharjo. Alhamdulillah, sampai saat ini donasi terkumpul Rp 951.759.167,- dari Rp 950.000.000,-(dana yang dibutuhkan). Dan dengan ini program wakaf pembebasan tanah Ponpes Al Ukhuwah Putri I Sukoharjo "DITUTUP". Kelebihan donasi akan kami gunakan untuk maslahat tanah tersebut seperti persiapan buat talud, jembatan dan pengurugan. Semoga menjadi amal jariyyah yang diterima di sisi Alloh dan semoga mendapatkan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat. Aamiin.

ALAM KUBUR

ALAM KUBUR  

Alam kubur dinamakan juga dengan alam barzakh. Secara bahasa, barzakh bermakna pembatas antara dua hal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا

Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi. [1]

Adapun secara syari’at, barzakh adalah alam setelah kematian sebelum datangnya hari kebangkitan. Allah Ta’la berfirman :

وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan [2]

Mujahid berkata : Yang dimaksudkan dengan barzakh adalah (alam) yang membatasi antara dunia dan akhirat.  [3]

Ibnul Qayyim berkata : Adzab dan nikmat kubur adalah suatu nama (yang sama) untuk adzab barzakh dan nikmat barzakh, yaitu alam yang berada di antara alam dunia dan alam akhirat. [4]

Syaikh Shalih Al Fauzan berkata : Alam kehidupan itu ada tiga: alam dunia, alam barzakh, dan alam kekekelan (akhirat). Maka alam barzakh adalah adalah pembatas antara alam dunia dan alam akhirat, di mana alam akhirat tersebut merupakan alam kekekalan. Dan alam barzakh adalah tempat menunggu datangnya hari qiyamat. [5]

  1. Fitnah Kubur

Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah pertanyaan dua malaikat yang ditujukan kepada orang yang telah meninggal dunia setelah ia dikubur tentang Rabb-nya, agamanya, dan nabinya. Beriman tentang hal ini adalah wajib karena telah datang penjelasannya dalam Al Qur’an maupun dalam hadits-hadits yang sampai pada derajat mutawatir.

Di antara dalil tentang adanya fitnah kubur ini adalah firman Allah Ta’ala :

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاء

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. [6]

Maksud peneguhan Alloh Ta’ala kepada orang-orang yang beriman dalam kehidupan akhirat adalah peneguhan yang diberikan Allah Ta’ala kepada mereka ketika menjawab pertanyaan dua malaikat di alam kubur. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Al-Baraa’ bin ‘Azib bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda ketika menjelaskan firman Allah Ta’la  dalam surat Ibrahim di atas  :

((  يُقَالُ لَهُ : مَنْ رَبُّكَ ؟ فَيَقُوْلُ : رَبِّيَ اللهُ , وَنّبِيِّ مُحَمَّدٌ. فَذَلِكَ  قَوْلُهُ : )  يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

“Ditanyakan kepadanya: “Siapakah Tuhanmu?” Lalu ia menjawab: “Tuhanku adalah Allah, dan Nabiku adalah Muhammad.” Ini adalah makna firman Allah Ta’ala :

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ

Allah meneguhkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh.

Adapun dalil dari As-Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam :

إِنِّي قَدْ رَأَيْتُكُمْ  تُفْتَنُوْنَ فِي الْقُبُوْرِ كَفِتْنَةِ الدَّجَّالِ

Sesungguhnya aku telah melihat kalian mendapatkan fitnah kubur sebagaimana fitnah dajjal.  [7]

Bagaimana Terjadinya Fitnah Kubur ?

Prosesi terjadinya fitnah kubur telah dijelaskan secara terperinci dalam hadits-hadits Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam. Berikut ini merupakan sebagian hadits yang menjelaskan tentang terjadinya fitnah kubur bagi mayit setelah ia dikuburkan.

عَنِ الْبَرَاءِ ابْنِ عَازِبٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ – في هذه القصة قَالَ النبي r – : وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ قَالَ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Al Bara’ bin ‘Azib, beliau berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah  untuk mengiringi jenazah, -didalam kisah ini Nabi bersabda- : “Dan akan datangShalalallahu alaihi wa sallam kepadanya dua malaikat kemudian mendudukkannya dan bertanya: Siapa Rabbmu? mayit itu menjawab: Rabbku adalah Allah. Kemudian mereka bertanya: Apa agamamu? Dia menjawab: Agamaku adalah Islam. Lalu keduanya bertanya: Siapakah orang yang diutus kepada kalian? Nabi bersabda: orang itu menjawab: Dia adalah Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam.” [8]

Dan sabda Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam :

عَنْ أَنَسٍ بن مالك t أنه حدثهم أن رسول الله قال : إِنَّ الْعبد إِذَا وُضِعَ فِيْ قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ , وإِنَّهُ لَيَسْمَعُ قرع نِعَالِهِمْ , قال : أتاه مَلَكَانِ  فَيُقْعِدَانِهِ , فَيَقُوْلاَنِ : مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِي هَذَا الرَّجُلِ لمحمد؟ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيَقُوْلُ : أَشْهَدُ أَنَّهُ عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ. فيقال له : انظر إلى مقعدك من النار قد أبدل الله به مقعدا من الجنة. فيراهماجميعا.

وَأَمَّا َالْمُنَافِقُ والْكَافِرُ, فيقال لهُ : مَا كُنْتَ تَقُوْلُ فِي هَذَا الرَّجُلِ ؟ فَيَقُوْلُ : لاَ أَدْرِيْ ! كُنْتُ أَقُوْلُ مَا يَقُوْلُ النَّاسُ. فيقالُ : لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. فيضرب بمطارق من حديد ضربة فَيَصِيْحُ صَيْحَةً , يَسْمَعُهَا مَنْ يليه غَيَر الثَّقَلَيْنِ .

Dari Anas  dari Nabi Shalalallahu alaihi wa sallam beliau bersabda : “Seseorang jika telah diletakkan di kuburnya dan ditinggalkan oleh teman-temannya, sungguh dia akan mendengar suara sandal mereka. Akan datang kepadanya dua malaikat, lalu mendudukkannya, kemudian bertanya: Apa yang engkau katakan tentang orang itu, yakni Muhammad? Dia menjawab: Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.

Adapun orang kafir dan munafik maka dia akan menjawab: Aku tidak tahu, aku dahulu berkata mengikuti perkataan orang lain. Kemudian dikatakan kepadanya: Engkau tidak tahu dan tidak mau membaca. Kemudian ia dipukul dengan palu dari besi di antara kedua telinganya, sehingga ia menjerit dengan sekeras-kerasnya, maka semua yang ada di atas kuburannya mendengar jeritan tersebut kecuali manusia dan jin. [9]

ADZAB DAN NIKMAT KUBUR

Para ulama’ ahlussunnah wal jama’ah telah sepakat tentang adanya adzab dan nikmat kubur. Hal ini berdasarkan dalil-dalil baik dari Al Qur’an maupun sunnah Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam. Di antara dalil dari Al Qur’an yang mengisyaratkan tentang adanya adzab kubur adalah firman Allah Ta’ala :

سَنُعَذِّبُهُمْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ يُرَدُّونَ إِلَى عَذَابٍ عَظِيمٍ

Nanti mereka akan Kami siksa dua kali kemudian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar. [10]

Ayat ini menunjukkan tentang adanya dua adzab yang akan menimpa orang-orang munafik sebelum adzab pada hari qiyamat. Adzab yang pertama akan mereka dapatkan di dunia baik berasal dari Allah Ta’ala secara langsung atau dengan perantaraan orang-orang mukmin. Adapun adzab yang kedua akan mereka dapatkan di alam kubur.

Al Hasan Al Bashri berkata : Allah Ta’ala akan mengadzab mereka dua kali, yaitu adzab di dunia dan adzab di alam kubur. [11]

Demikian pula firman Allah :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [12]

Ayat ini merupakan hujjah yang jelas bagi Ahlusunnah wal jama’ah dalam menetapkan keberadaan adzab kubur. Di mana ayat ini menjelaskan bahwa neraka dinampakkan kepada para pengikut Fir’aun setiap pagi dan petang, dan hal ini terjadi sebelum datangnya hari qiyamat. Karena setelah itu Allah Ta’ala berfirman :

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

Dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir`aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras”. [13]

Al Qurthubi berkata : Jumhur ulama’ berpendapat bahwa penampakan neraka kepada pengikut Fir’aun tersebut terjadi di alam barzakh. [14]

Adapun dalil dari As-Sunnah maka hadits-hadits yang menjelaskan tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur sampai pada derajat mutawatir.

Ibnu Abil Izzi Al Hanafi berkata : Sungguh telah mutawatir khabar dari Nabi tentang keberadaan adzab dan nikmat kubur bagi orang yang berhak untuk mendapatkannya. Demikian pula tentang pertanyaan dua malaikat (kepada mayit). Maka wajib untuk meyakini keberadaannya dan beriman dengannya. Serta tidak mencari-cari bagaimana kaifiyahnya karena akal tidak akan bisa mengetahuinya. [15]

Di tempat lain beliau berkata : Ketahuilah bahwa adzab kubur itu adalah adzab barzakh. Sehingga barangsiapa yang mati sedangkan ia adalah orang yang berhak untuk mendapatkan adzab maka ia akan mendapatkan bagian dari adzabnya, baik ia dikubur ataukah tidak. Baik ia mati karena dimakan binatang buas, atau karena terbakar sampai menjadi debu, atau karena jatuh dari udara, atau mati karena disalib, ataupun karena tenggelam di lautan. Adzab akan tetap sampai pada ruh dan jasadnya sebagaimana adzab juga sampai kepada mayit yang dikubur.  Demikian pula tentang dalil-dalil yang datang tentang didudukkannya mayit (di dalam kuburnya) dan berselisihnya tulang-tulang rusuk mayit dan semisalnya, wajib untuk difahami maknanya dari Rasul dengan tanpa berlebih-lebihan ataupun meremehkan. [16]

Di antara hadits-hadits tersebut adalah :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ يَهُوْدِيَّةً دَخَلَتْ عَلَيْهَا فَذَكَرَتْ عَذَابَ الْقَبْرِ , فَقَالَتْ لَهَا : أَعَاذَكِ اللهُ  مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ. فَسَأَلَتْ عَائِشَةُ رَسُوْلَ اللهِ r عَنْ عَذَابِ الْقَبْرِ , فَقَالَ : نَعَمْ , عَذَابُ الْقَبْرِ. قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا : فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ r بَعْدُ صَلَّى صَلاَةً إِلاَّ تَعَوَّذَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ.

Seorang wanita Yahudi dating kepada Aisyah, lalu wanita tersebut menyebutkan tentang adzab kubur dan berkata kepada Aisyah : Semoga Allah melindungi anda dari adzab kubur. Lalu Aisuah bertanya kepada Rasulullah tentang adzab kubur. Maka Rasulullah menjawab : Benar, adzab kubur. Aisyah berkata : Maka setelah peristiwa itu, tidaklah aku melihat Rasulullah selesai mengerjakan shalat kecuali beliau berlindung dari adzab kubur. [17]

Dua macam Adzab Kubur

Para ulama’ telah menjelaskan bahwa adzab kubur terbagi menjadi dua, yaitu :

  1. Adzab yang terus-menerus dan tidak akan terhenti sampai datangnya hari qiyamat.

Yaitu adzab bagi orang-orang kafir dan munafik. Hal ini sebagaimana firman Allah tentang pengikut Fir’aun :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا ءَالَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ

 

 Neraka akan diperlihatkan kepada mereka pada waktu pagi dan sore. Dan pada hari kiamat masukkanlah mereka pengikut fir’aun kedalam siksaan yang paling pedih [18]

  1. Adzab yang ada batasnya

Yaitu adzab bagi pelaku maksiat dari kalangan orang yang bertauhid. Maka orang tersebut akan disiksa sesuai kadar maksiatnya kemudian siksaannya akan diringankan atau terhenti karena rahmat dari Allah.

Syaikh Shalih Al Fauzan berkata : Adzab kubur terbagi menjadi dua macam. Macam yang pertama adalah adzab yang terus-menerus, yaitu adzab bagi orang-orang kafir. Sebagimana firman Allah :

النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا

Neraka akan diperlihatkan kepada mereka pada waktu pagi dan sore [19]

Sedangkan macam yang kedua adalah adzab sampai waktu tertentu kemudian berhenti. Ini adalah adzab bagi pelaku maksiat di kalangan kaum mukminin. Maka orang tersebut diadzab sesuai dengan dosa yang telah ia perbuat kemudian diringankan adzabnya. Terkadang ada pula yang dihentikan adzabnya disebabkan karena doa, istighfar, atau shadaqah. [20]

  1. HADITS AL BARAA’ BIN ‘AAZIB

Di antara hadits-hadits yang menyebutkan tentang adanya adzab dan nikmat kubur adalah hadits Al Baraa’ bin ‘Azib yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu dawud, Al Hakim dan selainnya. Dalam hadits ini, selain menyebutkan tentang adzab dan nikmat kubur, Rasulullah juga menjelaskan tentang datangnya malaikat maut untuk mencabut ruh seorang hamba, perjalanan ruh sampai ke langit dan turunnya kembali ke bumi, fitnah kubur dan sebaginya. Berikut ini adalah salah satu redaksi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةِ رَجُلٍ مِنَ الْأَنْصَارِ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ وَكَأَنَّ عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرَ وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ فِي الْأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مَلَائِكَةٌ مِنَ السَّمَاءِ بِيضُ الْوُجُوهِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الشَّمْسُ مَعَهُمْ كَفَنٌ مِنْ أَكْفَانِ الْجَنَّةِ وَحَنُوطٌ مِنْ حَنُوطِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَجْلِسُوا مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ عَلَيْهِ السَّلَام حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ قَالَ فَتَخْرُجُ تَسِيلُ كَمَا تَسِيلُ الْقَطْرَةُ مِنْ فِي السِّقَاءِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَأْخُذُوهَا فَيَجْعَلُوهَا فِي ذَلِكَ الْكَفَنِ وَفِي ذَلِكَ الْحَنُوطِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَطْيَبِ نَفْحَةِ مِسْكٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ قَالَ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ يَعْنِي بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَحْسَنِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانُوا يُسَمُّونَهُ بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يَنْتَهُوا بِهَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَسْتَفْتِحُونَ لَهُ فَيُفْتَحُ لَهُمْ فَيُشَيِّعُهُ مِنْ كُلِّ سَمَاءٍ مُقَرَّبُوهَا إِلَى السَّمَاءِ الَّتِي تَلِيهَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ السَّابِعَةِ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَ عَبْدِي فِي عِلِّيِّينَ وَأَعِيدُوهُ إِلَى الْأَرْضِ فَإِنِّي مِنْهَا خَلَقْتُهُمْ وَفِيهَا أُعِيدُهُمْ وَمِنْهَا أُخْرِجُهُمْ تَارَةً أُخْرَى قَالَ فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ فَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ دِينِيَ الْإِسْلَامُ فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هُوَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَقُولَانِ لَهُ وَمَا عِلْمُكَ فَيَقُولُ قَرَأْتُ كِتَابَ اللَّهِ فَآمَنْتُ بِهِ وَصَدَّقْتُ فَيُنَادِي مُنَادٍ فِي السَّمَاءِ أَنْ صَدَقَ عَبْدِي فَأَفْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ قَالَ فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ قَالَ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ حَسَنُ الثِّيَابِ طَيِّبُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ لَهُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ فَيَقُولُ رَبِّ أَقِمِ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

قَالَ وَإِنَّ الْعَبْدَ الْكَافِرَ إِذَا كَانَ فِي انْقِطَاعٍ مِنَ الدُّنْيَا وَإِقْبَالٍ مِنَ الْآخِرَةِ نَزَلَ إِلَيْهِ مِنَ السَّمَاءِ مَلَائِكَةٌ سُودُ الْوُجُوهِ مَعَهُمُ الْمُسُوحُ فَيَجْلِسُونَ مِنْهُ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَجِيءُ مَلَكُ الْمَوْتِ حَتَّى يَجْلِسَ عِنْدَ رَأْسِهِ فَيَقُولُ أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِي إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَغَضَبٍ قَالَ فَتُفَرَّقُ فِي جَسَدِهِ فَيَنْتَزِعُهَا كَمَا يُنْتَزَعُ السَّفُّودُ مِنَ الصُّوفِ الْمَبْلُولِ فَيَأْخُذُهَا فَإِذَا أَخَذَهَا لَمْ يَدَعُوهَا فِي يَدِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ حَتَّى يَجْعَلُوهَا فِي تِلْكَ الْمُسُوحِ وَيَخْرُجُ مِنْهَا كَأَنْتَنِ رِيحِ جِيفَةٍ وُجِدَتْ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ فَيَصْعَدُونَ بِهَا فَلَا يَمُرُّونَ بِهَا عَلَى مَلَإٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا قَالُوا مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ فَيَقُولُونَ فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ بِأَقْبَحِ أَسْمَائِهِ الَّتِي كَانَ يُسَمَّى بِهَا فِي الدُّنْيَا حَتَّى يُنْتَهَى بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُسْتَفْتَحُ لَهُ فَلَا يُفْتَحُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ) فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ اكْتُبُوا كِتَابَهُ فِي سِجِّينٍ فِي الْأَرْضِ السُّفْلَى فَتُطْرَحُ رُوحُهُ طَرْحًا ثُمَّ قَرَأَ ( وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ ) فَتُعَادُ رُوحُهُ فِي جَسَدِهِ وَيَأْتِيهِ مَلَكَانِ فَيُجْلِسَانِهِ فَيَقُولَانِ لَهُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا دِينُكَ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيَقُولَانِ لَهُ مَا هَذَا الرَّجُلُ الَّذِي بُعِثَ فِيكُمْ فَيَقُولُ هَاهْ هَاهْ لَا أَدْرِي فَيُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ أَنْ كَذَبَ فَافْرِشُوا لَهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلَاعُهُ وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ قَبِيحُ الْوَجْهِ قَبِيحُ الثِّيَابِ مُنْتِنُ الرِّيحِ فَيَقُولُ أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُوءُكَ هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ فَيَقُولُ مَنْ أَنْتَ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالشَّرِّ فَيَقُولُ أَنَا عَمَلُكَ الْخَبِيثُ فَيَقُولُ رَبِّ لَا تُقِمِ السَّاعَةَ

            Dari Al Baraa’ bin ‘Azib, beliau berkata : Kami pergi bersama Rasulullah untuk mengiringi jenazah seseorang dari kalangan Anshar. Sampailah kami di kuburannya dan ternyata belum dimasukkan ke liang lahat. Lalu Rasulullah duduk dan kami pun duduk di sekitar beliau seolah-olah ada burung yang hinggap di kepala kami. Beliau memegang tongkat dan memukulkannya ke bumi. Lalu, beliau mengangkat kepalanya dan bersabda : Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur (sebanyak dua atau tiga kali), kemudian beliau bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin jika meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, maka para malaikat dengan wajah yang putih akan turun dari langit kepadanya, seolah-olah wajahnya itu adalah matahari. Mereka membawa kain kafan dan hanut dari surga. Kemudian mereka duduk sepanjang pandangan darinya. Datanglah  malaikat maut sehingga ia duduk di dekat kepalanya seraya berkata : “Wahai jiwa yang baik, keluarlah menuju ampunan dari Allah dan keridhaan-Nya.

Beliau bersabda : Kemudian ruh itu keluar begaikan setetes air yang keluar dari mulut wadah, lalu malaikat maut mengambilnya. Ketika mengambil ruh itu, ia tidak meletakkannya di tangan sekejap mata pun. Akan tetapi mereka mengambilnya dan meletakkannya di atap kafan dan hanutnya. Ruh hamba tersebut keluar dengan wangi semerbak bagaikan misik yang paling wangi di dunia.

Beliau bersabda : lalu mereka membawa ruh tersebut naik ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat pun kecuali ditanyakan kepada mereka: Ruh siapakah yang wangi ini ? Mereka menjawab : Fulan putra Fulan –dengan menyebutkan namanya yang paling baik di dunia– sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia. Mereka meminta agar pintu langit tersebut dibukakan dibukakan untuknya. Setiap penghuni langit akan mengantarkannya sampai ke langit berikutnya sehingga sampaidi langit ke tujuh. Kemudian Allah U berf`irman : “Tulislah kitab hambaku ini di ‘Illiyin dan kembalikanlah ia ke bumi. Sesungguhnya dari bumi lah aku menciptakannya, kepadanya  Aku mengembalikannya, dan darinya Aku akan mengeluarkannya sekali lagi.”

Beliau bersabda : Maka ruhnya dikembalikan ke jasadnya. Lalu datanglah dua malaikat yang mendudukkannya seraya bertanya kepadanya : Siapakah Rabb-mu ? Ia menjawab : Allah Rabb-ku. Lalu keduanya bertanya : Apakah agamamu ? Ia menjawab : Islam agamaku. Keduanya bertanya lagi : Siapakah lelaki ini yang diutus kepadamu ? Ia menjawab : Dia adalah Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam. Lalu keduanya bertanya : Apakah pekerjaanmu ? Ia menjawab : Aku membaca Al Qur’an, maka aku beriman dan membenarkannya. Lalu berserulah penyeru di langit : Hambaku benar, maka bentangkanlah baginya (permadani) dari surga, dan pakaikanlah pakaian dari surga, dan bukakanlah baginya satu pintu menuju surga.Beliau bersabda : Lalu datanglah semerbak mewangi dan dibentangkan baginya sejauh pandangan.

Beliau bersabda : lalu datanglah seseorang dengan paras indah, baju yang bagus dan wangi seraya berkata : Aku memberi kabar gembira dengan sesuatu yang membahagiakanmu. Ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu. Ia bertanya : Siapakah engkau, wajahmu menampakkan kebaikan. Dia berkata : “Aku adalah amalmu yang shalih. ” Ia berkata : “Ya Allah, percepatlah datangnya hari kiamat agar aku bisa kembali pada keluarga dan hartaku.”

Beliau bersabda : “Sedangkan hamba yang kafir, jika meninggalkan dunia dan menghadap akhirat, datanglah kepadanya para malaikat dengan wajah yang hitam dengan membawa misuh. Mereka duduk sepanjang pandangan darinya. Kemudian datanglah Malaikat Maut dan duduk di dekat kepalanya seraya berkata : “Wahai jiwa yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan dan kemarahan Allah.” Beliau bersabda : “Kemudian jiwa itu berpecah belah di dalam tubuhnya. Lalu Malaikat Maut mencabutnya bagaikan tongkat (dengan cabang yang banyak) dicabut dari wol yang basah. Ketika mengambilnya, Malaikat Maut tidak meletakannya di tangan sekejap mata pun akan tetapi ia meletakkannya di atap misuh. Ruh tersebut keluar dengan bau bangkai yang paling busuk di muka bumi. Mereka membawa ruh itu naik ke atas. Tidaklah melewati sekelompok malaikat pun, kecuali ditanyakan : “Ruh siapakah yang busuk ini ?” Mereka menjawab : Fulan putra Fulan –dengan menyebutkan namanya yang paling buruk di dunia– sehingga mereka membawanya sampai ke langit dunia. Mereka meminta agar pintu dibukakan, akan tetapi tidak dibukakan untuknya. Lalu Rasulullah membaca firman Allah :

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lobang jarum. [21]

Lalu Allah berfirman : “Tulislah kitabnya di Sijjin di bumi yang paling bawah.” Kemudian ruh tersebut dilemparkan dari langit, lalu beliau membaca firman Allah :

وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. [22]

Lalu ruh tersebut dikembalikan ke jasadnya. Datanglah dua malaikat kepadanya dan mendudukkannya seraya bertanya : “Siapakah Rabbmu ?” Ia menjawab : “Ah, ah aku tidak tahu.” Mereka berdua bertanya lagi : “Apakah agamamu ?” Ia menjawab : “Ah, ah aku tidak tahu.” Mereka berdua bertanya : “Siapakah lelaki ini yang diutus kepadamu ?” Ia menjawab : “Ah, ah aku tidak tahu.” Lalu menyerulah penyeru di langit : “Hambaku pembohong, maka bentangkanlah hamparan dari neraka dan bukakanlah baginya satu pintu menuju ke neraka. ”  Lalu datanglah panas neraka dan anginnya yang panas, serta kuburan disempitkan baginya sehingga tulangnya berantakan. Lalu datanglah kepadanya seseorang dengan paras yang buruk, baju yang jelek, serta bau yang busuk. Ia berkata : “Aku membawa kabar buruk yang membuatmu tidak senagng. Ini adalah hari yang dijanjikan kepadamu.” Lalu ia bertanya : “Siapakah kamu, wajahmu membawa keburukan  ?” Ia menjawab : “Aku adalah amalmu yang buruk.” Kemudian ia berkata : “Ya Rabbku, janganlah hari kiamat itu didatangkan.” [23]

Orang-Orang yang Terhindar dari Fitnah dan Adzab Kubur

Di antara kaum mu’minin ada yang mengamalkan amalan yang besar, atau menjalani ujian yang besar di dunia sehingga menyebabkan mereka terhindar dari fitnah dan adzab kubur. Di antara mereka adalah :

Orang yang Mati Syahid

Sebagaimana sabda Nabi :

لِلشَّهِيْدِ عِنْدَ اللهِ سِتُّ خِصَالٍ – وذكر منها – وَيُجَارُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Orang yang mati syahid mendapatkan enam keutamaan – di antaranya beliau menyebutkan –  : Ia terjaga dari adzab kubur. [24]

عَنْ رَاشِدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ رَجُلٍ مِنْ أصْحَابِ النَّبِيِّ r أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ , مَا بَالُ الْمُؤْمِنِيْنَ يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ إِلاَّ الشَّهِيْدَ ؟ قَالَ : كَفَى بِبَارِقَةِ السُّيُوْفِ عَلَى رَأْسِهِ فِتْنَةً

Dari Rasyid bin Sa’d dari salah seorang shahabat Nabi, sesungguhnya seseorang bertanya : Wahai Rasulullah apakah sebabnya orang yang mati syahid terbebas dari fitnah kubur sedangkan orang-orang mukmin yang lain tidak terbebas darinya ? Maka Rasulullah menjawab : Cukuplah kilatan pedang di atas kepala mereka sebagai fitnah (ujian) atas nya. [25]

Orang yang Meninggal Ketika Ribath fi Sabilillah

عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ r قَالَ : كُلُّ الْمَيِّتِ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الْمُرَابِطَ فَإِنَّهُ يَنْمُوْ لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ , وَيُأَمَّنُ مِنْ فَتَّانَ الْقَبْرِ

            Dari Fadhalah bin Ubaid, sesungguhnya Rasulullah bersabda : Setiap orang yang meninggal ditutup atas amalnya kecuali orang yang ribath. Sesungguhnya amalannya  bertambah sampai hari qiyamat, dan ia terbebas dari fitnah kubur. [26]

Orang yang Meninggal Pada Hari Jum’at

عَنْ عَْبِد اللهِ بْنِ عَمْرٍو قال : قال رسول الله r : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَبْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلاَّ وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

            Dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah telah bersabda : Tidaklah ada seorang muslim pun yang meninggal pada siang ataupun malam hari Jum’at kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur. [27]

Orang yang Meninggal Disebabkan Sakit Perut

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ : كُنْتُ جَالِسًا وَسُلَيْمَانُ بْنُ صُرَدٍ وَخَالِدُ بْنُ عُرْفُطَةَ , فَذَكَرُوْا أَنَّ رَجُلاً تُوُفِّيَ , مَاتَ بِبَطْنِهِ , فَإِذَا هُمَا يَشْتَِهِيَانِ أَنْ يَكُوْنَا شُهَدَاءَ جَنَازَتِهِ , فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِلْـآخَرِ : أَلَمْ يَقُلْ رَسُوْلُ اللهِ r : مَنْ يَقْتُلْهُ بَطْنُهُ فَلَنْ يُعَذَّبَ فِي قَبْرِهِ ؟ فَقَالَ اْلآخَرُ : بَلَى.

            Dari Abdullah bin Yasar, ia berkata : Aku duduk bersama Sulaiman bin Shurad dan Khalid bin ‘Urfuthah, lalu mereka menyebutkan bahwa ada seseorang yang meninggal disebabkan sakit perut. Maka keduanya berkeinginan untuk menghadiri jenazahnya. Lalu salah satu dari keduanya berkata kepada yang lainnya : Bukankah Rasulullah telah bersabda : Barangsiapa yang meninggal karena sakit perut maka tidak akan diadzab di alam kubur. Lalu seorang yang lain berkata : Benar. [28]

Berlindung dari Fitnah dan Adzab Kubur

Fitnah dan adzab kubur adalah perkara besar yang hendaknya seorang hamba memohon kepada Allah Y supaya mendapatkan taufiq dan penjagaan-Nya dari kedua hal tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah r memerintahkan kepada para shahabat untuk memohon perlindungan kepada Allah Y dari fitnah dan adzab kubur. Sebagaimana sabda beliau :

تَعَوَّذُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ

Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur !

Lalu para shahabat berkata :

نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

Kami berlindung kepada Allah dari adzab kubur. [29]

Demikian pula sabda beliau :

اِسْتَجِيْرُوْا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ , فَإِنَّ عَذَابَ اْلقَبْرِ حَقٌّ

Berlindunglah kalian kepada Allah dari adzab kubur karena sesungguhnya adzab kubur itu benar adanya. [30]

Demikian pula, Rasulullah telah memerintahkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah  dari adzab kubur setelah tasyahud akhir dalam sholat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah  ia berkata : Rasulullah  telah bersabda : Jika kalian telah selesai  membaca tasyahud maka hendaklah memohon perlindungan kepada Allah dari empat hal. Hendaklah ia berdo’a : Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari adzab neraka jahanam, dan dari adzab kubur, dan dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejelekan fitnah al masih ad dajjal. [31] 

Penutup

Demikian pembahasan singkat tentang qiyamat shughra dan alam kubur yang merupakan salah satu bagian dari keimanan kita kepada hari akhir. Semoga menjadi sarana bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya untuk mengingat kematian dan kehidupan yang kekal di alam akhirat. Karena, kematian merupakan salah satu nasihat yang paling berharga bagi seseorang. Sebagaimana Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam juga memerintahkan kepada umatnya untuk memperbanyak dalam mengingat kematian.

Sebagaimana sabda beliau  :

أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتِ

Perbanyaklah mengingat akan pemutus kenikmatan-kenikmatan dunia, yaitu kematian. [32]

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah Shalalallahu alaihi wa sallam, keluarga dan shahabat beliau, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai akhir zaman. Wa akhiru da’waana anil hamdulillaahi rabbil ‘alamiin.

 

 

Ustad Nurman Darmawan hafidhahullah Ta’ala.

 

[1] QS. Al Furqaan : 53

[2] QS. Al Mu’minuun : 100

[3] Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim,  Al Hafizh ‘Imaduddin Abul Fidaa’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, Cetakan kelima, Tahun 1421 H, Maktabah Darussalam in Nasyri wat Tauzi’, Riyadh, 3/1948.

[4] Al-Qiyamah As-Shughra, Dr. Umar Sulaiman Al Asyqar, Cetakan Pertama, Tahun 1406 H, Maktabah Al Falaah, Kuwait, hlm. 13

[5] Syarh Ad Durratul Mudhiyyah fi ‘Aqdi Ahlil Firqatil Mardhiyyah, Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Cetakan Pertama, Tahun 1425 H, hlm. 162

[6] QS. Ibrahim : 27

[7] HR. Muslim no. 903

[8] HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Al Hakim berkata : “Hadits ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.” Syaikh Al Albani menyetujui penshahihan Imam Al Hakim ini dalam Ahkamul Janaiz hlm. 159

[9] HR. Bukhari no. 1374 dan Muslim no. 7145

[10] QS. At Taubah : 101

[11] Tafsir Al Qur’anul ‘Azhim,  Al Hafizh ‘Imaduddin Abul Fidaa’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al Qurasyi Ad Dimasyqi, Cetakan kelima, Tahun 1421 H, Maktabah Darussalam lin Nasyri wat Tauzi’, Riyadh, 2/1335

[12] QS. Ghaafir : 46

[13] QS. Ghaafir : 46

[14] Al Jaami’ li Ahkaamil Qur’an, Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al Anshari Al Qurthubi, Cetakan pertama, tahun 1416 H, Daar Ihyaa’ At Turaats Al ‘Arabiy, Beirut, 8/318

[15] Syarah Al ‘Aqidah At Thahawiyah, Al Imam Al Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi Ad Dimasyqi, Tahqiq Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth, Cetakan ketujuh, Tahun 1415 H, Muassasah Ar Risalah, Beirut, 2/578

[16] Syarah Al ‘Aqidah At Thahawiyah, Al Imam Al Qadhi ‘Ali bin ‘Ali bin Muhammad bin Abil ‘Izzi Ad Dimasyqi, Tahqiq Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin At Turki dan Syu’aib Al Arnauth, Cetakan ketujuh, Tahun 1415 H, Muassasah Ar Risalah, Beirut, 2/579

[17] HR. Bukhari no. 1372

[18] QS. Ghaafir : 46

[19] QS. Ghaafir : 46

[20] Syarh Al Aqidah Al Washithiyah, Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al Fauzan, Cetakan keenam, Tahun 1413 H, Maktabah Al Ma’aarif lin Nasyri wat Tauzi’, Riyadh, hlm. 144

[21] QS. Al A’raaf : 40

[22] QS. Al Hajj : 31

[23] HR. Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Al Hakim berkata : “Hadits ini shahih atas syarat Bukhari dan Muslim.” Syaikh Al Albani menyetujui penshahihan Imam Al Hakim ini dalam Ahkamul Janaiz hlm. 159

[24] HR. Ahmad, Tirmidzi dan beliau menshahihkannya, Ibnu Majah. Syaikh Al Albani menshahihkan sanadnya dalam Ahkamul Janaiz hlm. 36

[25] HR. An Nasa’i. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Ahkamul Janaiz hlm. 36

[26] HR. Abu Dawud. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 2500

[27] HR. Ahmad dan Tirmidzi. Dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’us Shaghir wa Ziyadatuhu no. 5773

[28] HR.Ahmad, Tirmidzi dan beliau menghasankannya, An Nasa’i, Ibnu Hibban dan beliau menshahihkannya. Syaikh Al Albani menshahihkan sanadnya dalam Ahkamul Janaiz hlm. 38

[29] HR. Muslim no. 2867

[30] HR. Thabrani dalam Al Mu’jamul Kabir. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’us Shaghir wa Ziyadatuhu no. 932

[31] HR. Muslim no. 588

[32] HR. Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’us Shaghir wa Ziyadatuhu no. 1210

You May Also Like