PENUTUPAN DONASI WAKAF RENOVASI MASJID JAMI’ IBNU ‘UTSAIMIN Bismillah.. Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmush shoolihaat.. Donasi wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo per tanggal 26 Maret 2020 terkumpul Rp 1.088.853.190,- dari kebutuhan dana Rp 1.052.000.000,- Alhamdulillah ada kelebihan donasi sejumlah Rp 36.853.190,- Kelebihan donasi tersebut akan kami alokasikan untuk pembelian karpet, sound system serta perabot dalam masjid. Jazaakumulloohu khairon wabaarakalloohu fii ahlikum wa maalikum kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari hartanya, mudah-mudahan Alloh memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. Demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu menyebarkan info proyek wakaf ini, kami ucapkan Jazaakumulloohu khairon. Maka dengan ini, program wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin kami tutup. CP: 0815 4879 3106 Drs. Muhammad Syahli WS Wa billahit taufiiq. Pimpinan Pesantren Ustadz Aris Sugiyantoro

Menunda Nikah Karena Belum Mapan

NIKAHLAH….ENGKAU AKAN KAYA

 

MUQADDIMAH :

 

Nikah adalah sebuah topik pembicaraan yang memikat….

Pembicaraan yang sangat menarik bagi seorang pemuda…

Sehingga tidak akan pernah bosan untuk dibahas….

 

Karena nikah adalah impian para pemuda….

Menyempurnakan separuh agama adalah dambaan para jomblo….

 

Sebuah realita.

Namun sebagian pemuda takut untuk menikah….

Tidak berani membangun bahtera rumah tangga….

 

Banyak alasan yang mendasari seorang pemuda enggan melangkah ke jenjang pernikahan….

Diantaranya adalah perasaan merasa belum mapan….

 

Ingin menunggu kaya terlebih dahulu….

Menunggu punya rumah dulu, mobil, dan modal besar untuk menikah….

Ketahuilah para Ikhwan dan akhawat…..

Menikahlah Niscaya Engkau Akan Kaya…..

 

Sebuah Kekhawtiran.

Sebagian pemuda khawatir untuk menikah karena khawatir dalam hal rizki….

Padahal telah berpenghasilan cukup, sudah bisa ditakar dapat menghidupi seorang istrinya.

Namun begitulah, kekhawatiran demi kekhawatiran terus menghantuinya, sehingga ia pun mengulur waktu untuk segera menikah….

Padahal janji Allah itu pasti, Dia akan mencukupi jika kita miskin….

Allah Ta’ala berfirman :

وَأَنكِحُوا اْلأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِن فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur: 32).

Di antara tafsiran Surat An Nur ayat 32 di atas adalah: “Jika kalian itu miskin maka Allah yang akan mencukupi rizki kalian.

Boleh jadi Allah mencukupinya dengan memberi sifat qona’ah (selalu merasa cukup) dan boleh jadi pula Allah mengumpulkan dua rizki sekaligus (Lihat An Nukat wal ‘Uyun).

Jika miskin saja, Allah akan cukupi rizkinya, bagaimana lagi jika yang bujang sudah berkecukupan dan berpenghasilan ?….

Dari ayat di atas, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

التمسوا الغنى في النكاح

Carilah kaya (hidup berkecukupan) dengan menikah.”  (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim mengenai tafsir ayat di atas).

Lihatlah pemahaman cemerlang dari seorang Ibnu Mas’ud karena yakin akan janji Allah.

Sebuah Pertanyaan.

Mungkin ada orang bertanya, “Masa sih, dengan menikah dapat membuat orang menjadi kaya?” .

Jawaban yang simpel dan praktis adalah bahwa mayoritas orang yang kaya adalah orang yang telah menikah bukan yang masih bujang. Itu realitas.

Orang yang telah menikah mendapat beberapa kelebihan sebagai hasil dari penyempurnaannya terhadap agama, yaitu ia memiliki apa yang otomatis tidak dimiliki oleh orang yang masih bujang, yaitu istri dan anak. Tidak heran, jika kita akan melihat lancarnya rizki kawan atau saudara yang telah menikah, apalagi setelah mereka mendapatkan anak.

Perintah Menikah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam bersabda :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Rasulullah saw bersabda, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian yang sudah memiliki kemampuan untuk menikah, maka menikahlah! Itu karena menikah bisa lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa belum mampu untuk itu, maka berpuasalah! Itu karena puasa bisa menjadi benteng baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Keutamaan Menikah.

  1. Menyempurnakan Separuh Agama.

Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

“Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa.”[Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 625).].

 

  1. Membantu Menjaga Kehormatan.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ اثْنَيْنِ وَلَجَ الْجَنَّةَ: مَـا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَمَـا بَيْـنَ رِجْلَيْهِ.

“Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk Surga: Apa yang terdapat di antara kedua tulang dagunya (mulutnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya).”[ HR. At-Tirmidzi (no. 2411) serta dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab ash-Shahiihah (no. 150).

  1. Main-main dengan istri itu berpahala

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اللهْوُ في ثلاثٍ : تأديبُ فرَسِكَ ، و رمْيُكَ بِقوسِكِ ، و مُلاعَبَتُكَ أهلَكَ

Main-main (yang bermanfaat) itu ada tiga: engkau menjinakkan kudamu, engkau menembak panahmu, engkau bermain-main dengan istrimu (HR. Ishaq bin Ibrahim Al Qurrab dalam Fadhail Ar Ramyi no.13 dari sahabat Abud Darda, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami 5498 ).

  1. Hubungan Suami Istri Adalah Sedekah.
  2. Nafkah suami kepada istrinya bernilai sedekah

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ المُسْلِمُ نَفَقَةً عَلَى أَهْلِهِ، وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا، كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang Muslim memberi nafkah kepada keluarganya, dan ia berharap pahala dari itu, maka nafkah tersebut bernilai sedekah” (HR. Bukhari no. 5351).

  1. Menikah dapat mengembalikan semangat “kepemudaan”.

Nikah dapat mengembalikan kekuatan dan kepemudaan badan. Karena ketika jiwa merasa tenteram, tubuh menjadi giat

  1. Abdullah bin Mas’ud berkata: “Seandainya aku tahu bahwa ajalku tinggal 10 hari lagi, niscaya aku ingin pada malam-malam yang tersisa tersebut seorang isteri tidak berpisah dariku.”[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (IV/128)].
  2. Berkata Umar kepada Abu Zawa-id: ‘Tidak ada yang menghalangimu untuk menikah kecuali kelemahan atau banyak dosa.’”[ Abdurrazzaq (no. 10384, VI/170)].
  3. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Bujangan itu seperti pohon di tanah gersang yang diombang-ambingkan angin, demikian dan demikian.”[ HR. ‘Abdurrazzaq (no. 10386, VI/171).

 

 

Persiapan Sebelum Menikah.

Salah satu persiapan sebelum menikah adalah persiapan finansial. Berapakah banyak materi yang dimiliki oleh calon suami kita.

Manakah Yang Terpenting.

Berpenghasilan tetap, atau yang penting tetap berpenghasilan ?.  Punya gaji tetap, atau yang penting tetap punya gaji ?.

Yang terpenting adalah kesungguhan seorang suami untuk bertanggung jawab sepenuhnya sebagai kepala keluarga.

Yang Penting Niat Baik Dalam Menikah (Menjaga Kesucian Diri)….Agar ditolong Allah.

Menikah dengan niat ibadah menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya…

Allah akan senantiasa menolong orang yang ingin menjaga kesucian dirinya lewat menikah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapat pertolongan Allah. Di antaranya :

وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ

“… Seorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya.” (HR. An Nasai no. 3218, At Tirmidzi no. 1655.

Pertolongan Allah adalah bagi orang yang nikah yang ingin menjaga kesucian dirinya”. Jika Allah telah menjanjikan demikian, itu berarti pasti. Maka mengapa mesti ragu ?.

Yang Penting Berdoalah Minta Kepada Allah.

Allah memberi rizki tanpa ada kesulitan dan sama sekali tidak terbebani….

Ath Thohawi rahimahullah dalam matan kitab aqidahnya berkata, “Allah itu Maha Pemberi Rizki dan sama sekali tidak terbebani.”

Seandainya semua makhluk meminta pada Allah, Dia akan memberikan pada mereka dan itu sama sekali tidak akan mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun juga. Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman :

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuh permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari).

Mengenai hadits ini, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Hadits ini memotivasi setiap makhluk untuk meminta pada Allah dan meminta segala kebutuhan pada-Nya.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 48).

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fathul Bari, 13: 395)

Dengan merenungkan hal ini, semoga Allah memberi taufik pada kita yang masih ragu untuk menikah untuk segera menuju pelaminan.

Berusahalah dalam mengais rizki dan tawakkal pada Allah, niscaya akan selalu ada jalan keluar.

Jika kita yakin terhadap hal di atas, niscaya kekhawatiran akan beralih menjadi percaya dan rizki pun akan datang dengan mudah.

Indahnya Perjuangan Diawal Menikah.

Waktu awal-awal menikah, mungkin hanya punya sebuah motor ‘butut’. Itu pun hadiah dari orang tua.

Ketika awal menikah, mungkin gajinya hanya Rp 650 ribu perbulan. Namun tidak terlalu berpikir tentang bagaimana bisa hidup layak setelah menikah. Makan pun seadanya. Tempe, tahu; yang penting bisa makan.

Dalam setahun, mungkin lebih dari tiga kali listrik rumah kontrakan mereka diputus sementara oleh PLN karena telat membayar.

Namun seiring bertambahnya usia pernikahan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menambah rezeki. Karir suami meningkat cepat. Prosentase gajinya naik melebihi teman-temannya yang lebih lama bekerja di sana.

Akhirnya Kini telah memiliki rumah sendiri, kendaraan dan mendapatkan penghasilan berkali lipat. Allah berfirman :

إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32)

Sungguh benar janji Allah: Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Jika mereka miskin, Allah yang akan membuat mereka jadi kaya.

Sebagai seorang mufassir yang sangat memahami Al Qur’an, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberikan nasehat berlandaskan janji Allah ini: “Carilah kecukupan dalam nikah.” Jika engkau ingin cukup, ingin kaya, maka menikahlah.

Ketika menafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir menceritakan kisah seorang laki-laki yang tidak memiliki apa-apa selain sehelai sarung yang dikenakannya.

Ketika menikah, ia tidak memiliki barang apapun yang bisa digunakannya sebagai mahar. Bahkan cincin besi pun tak bisa ia dapatkan.

Lalu oleh Rasulullah ia disuruh memberikan mahar berupa mengajari istrinya ayat-ayat Al Qur’an yang telah dihafalnya. Qadarullah, setelah menikah ia dapat mencukupi nafkah untuk keluarganya.

Rasulullah mempertegas janji Allah terhadap orang yang menikah ini dalam sabdanya:

ثَلَاثَةٌ كُلُّهُمْ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عَوْنُهُ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ الْعَفَافَ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الْأَدَاءَ

“Ada tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah Azza wa Jalla, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang menikah karena menghendaki kesucian, dan budak mukatab yang bertekad melunasi kebebasannya” (HR. An Nasa’i)

Jadilah pasangan suami istri yang akan merasakan pertolongan Allah tersebut. Jika sebelum menikah mereka menerima pemberian dari orang tua. Kini dengan izin Allah, gantian mereka yang memberi kepada orang tua.

Jadi, adakah yang masih takut menikah karena alasan ekonomi? Semoga tidak lagi. Sebab, Allah-lah Sang Maha Pemberi rezeki.

Bolehkah Orang Kaya Harta Benda ?

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri.

Qana’ah Kaya Hati, Itulah Kaya Sebenarnya.

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.

Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Dari sini seorang insan bisa merenungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan yang sebenarnya.

Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi.

Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta.

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia.

Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah.

Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”(Al Minhaj Syarh Shahih Muslim).

Sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ  صلى الله عليه وسلم  كَانَ يقول : ( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى ).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721).

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.[ Al Minhaj Syarh Shahih Muslim].

Saudaraku … milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

 

 ( DALAM PENANTIAN )

( PEMBAHASAN CINTA LAWAN JENIS )

Salahkah Aku Jika Jatuh Cinta ?

Bukanlah jatuh cinta yang menjadi masalah utama… Akan tetapi yang manjadi permasalahan adalah bagaimana menejemen perasaan cinta tersebut ?…

Jatuh cinta kepada lawan jenis adalah fitrah manusia….

Jika sekedar jatuh cinta maka tidak mengapa, karena rasa cinta kepada lawan jenis adalah tabiat manusia dan manusia terkadang tidak kuasa menolaknya….

Allah Ta’ala berfirman :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14).

 

Tetapi ketika Jatuh cinta menyapa : Bagaimanakah sikap kita ?….

Tentukan jalan jika jatuh cinta….

Antara 2-H : Halalkan (dengan Ijab Sah) atau Hilangkan (dari pikiran)….

Jika Tidak Bisa Segera Menikah…. 

Maka Santai, Tenang dan Damai…..

Urusan Cinta Setelah Kuliah…..

Fokuslah pada Ilmu, pengembangan diri, menghapal Al-Quran dan hadits….

Agar kelak menjadi manusia yang paling memberikan manfaat…

Maka hidup akan lebih tenang, tidak terusik dan tidak terganggu…

 

Perlukah Memboking cinta ? :

Sebagian Akhi berkata : “Ukhti, nampaknya hati saya sudah bertaut kepada ukhti, insyaAllah saya serius sama ukhti, nanti saya akan nikahi ukhti LIMA TAHUN LAGI setelah saya lulus dan dapat kerja”…

Biar mereka sajalah yang memboking cinta, sementara sibukanlah bertemankan buku-buku di rak kamar, sibuk mendatangi majelis, sibuk menyetorkan hapalan….

Sibuk berbakti mencari senyum ayah, sibuk menyelesaikan amanah kuliah dari ibu, sibuk menjadi panitia atau bisa juga sibuk memulai bisnis kecil-kecilan sebagai pengalaman.

Kenapa tidak perlu mboking cinta ? Karena kami yakin dengan Janji Allah pencipta kami,


الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (An-Nur: 26).

Tidak perlu khawatir masalah jodoh, yang terpenting sekarang kita menjadi lebih baik. Meningkatkan kualitas takwa dan keimanan.

Sibuk belajar dikampus menunaikan kewajiban amanat orang tua, sibuk belajar bahasa arab, sibuk berdakwah,sibuk mengurus panitia kajian, sibuk menulis ilmu dan kesibukan yang bermanfaat lainnya dibanding sibuk mengurusi wanita.

Yakinlah bahwa jika kita baik pasti juga akan mendapat yang baik….

Disinilah kita bisa mengukur keimanan kita, jika memang kita mengaku-ngaku beriman kepada-Nya, karena rabb kita,

إِنَّ اللّهَ لاَ يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.” [Ar-Ra’d: 31]

Jadi sementara BERPUASA CINTA

Pernahkah kita berpuasa? Menahan makan dan minum, kemudian berbuka, alangkah nikmatnya.

Demikian pula kita juga berpuasa dari cinta yang terlarang, karena ingin berbuka dengan penuh keindahan, Itulah Indahnya pacaran setelah menikah….

Tentu kita bukan koki, yang sudah mencicipi (sebelum halalnya), sudah tidak berselera lagi dengan makanan yang dibuat.

Jangan sekali-kali meneguk madu cinta sebelum waktunya. Karena kaidah fiqhiyah mengatakan :

من استعجل شيئا قبل أوانه عوقب بحرمانه

“Barangsiapa yang terburu-buru ingin mendapatkan sesuatu, maka diberi hukuman dengan tidak mendapatkannya”

Jangan terburu-buru jika memang belum waktunya. Nanti engkau tidak mendapatkannya.

Sebagaimana seorang ahli waris ingin segera mendapat warisan maka ia terburu-buru dan membunuh. Maka syari’at menghukumnya tidak mendapat warisan sedikitpun.

Jika engkau bersabar, kemudian jika tiba saatnya. Barulah terasa kenikmatan tiada bandingannya. Kenikmatan yang tidak pernah dirasa sebelumnya.

Engkau bukanlah koki, tetapi PELANGGAN SPESIAL yang datang tepat pada waktunya…

Duhai anda yang sedang berpuasa, tahanlah sebelum halalnya dan Insya Allah kelak..

Selamat berbuka….

Jadi jangan Coba-Coba Mengetuk Hati Wanita Jika Tidak Serius Meng-halalkannya :

Sebuah Syair yang bagus ini:

ﻟَﺎ ﺗَﻄْﺮُﻕْ ﺑَﺎﺏَ ﻗَﻠْﺐِ ﺍﻟْﺄُﻧْﺜَﻰ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﻟَﺎ ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﻣَﻌَﻚَ ﺣَﻘَﺎﺋِﺐَ ﺍﻟِﺎﻫْﺘِﻤَﺎﻡِ

“Jangan berani-berani mengetuk pintu hati wanita

Jika engkau tidak membawa berkoper-koper perhatian.”

 

Karena pembuktian Cinta Sejati Hanya Dengan Menikah

Pernyataan dan kepastian teori pasti butuh bukti, pengadilan butuh bukti, klaim tuntutan butuh bukti, keimanan butuh bukti dan tentunya cinta juga butuh pembuktian

Jika ada mengakui mencinta tetapi tidak menikahi atau segera menikahi, maka itu semua hanya cinta kasih yang menjelma saja dalam pandangan mata yang berfatamorgana.

Walaupun yang diumbar adalah sajak romantis yang mengalahkan merdu kicauan burung, walaupun sentuhan sayang yang dibelai mengalahkan tetesan embun….

Dan walaupun buah tangan yang diberi adalah rangkaian melati bersanggul jelita. Semuanya tanpa pernikahan adalah semi palsu bahkan tipu daya.

Mengapa? karena orang yang paling mengetahui hakikat pembuktian cinta mengatakan bukti cinta adalah menikah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لم ير للمتحابين مثل النكاح

“Tidak diketahui [yang lebih bermanfaat] bagi dua orang yang saling mencinta semisal pernikahan” [HR. Ibnu Majah no. 1847, As- silsilah As-shahihah no. 624]

Ulama pakar hati Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu berkata,

وقد اتفق رأي العقلاء من الأطباء وغيرهم في مواضع الأدوية أن شفاء هذا الداء في التقاء الروحين والتصاق البدنين

          “Sungguh para dokter dan yang lainnya bersepakat dalam pandangan orang-orang yang berakal mengenai pengobatan, bahwa obat dari penyakit ini [mabuk cinta] adalah bertemunya dua ruh dan menempelnya dua badan [yaitu menikah]”.[Raudhatul Muhibbin hal. 212, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, 1403 H, Asy-Syamilah]

Banyak orang menyangka bahwa cinta diperoleh ketika sebelum bernikah, menurut mereka saling berkenalan antara satu sama lain, mereka bergurau senda, bermesra, berkasih sayang, dan melakukan apa yang diharamkan oleh Allah Ta’ala sebelum dari akad dan pernikahan.

Padahal hal tersebut adalah sesuatu yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan diharamkan karena itu perbuatan yang menghampiri zina.

Karena masa pacaran adalah masa yang sangat sulit untuk mengenal pasti kejujuran dan memahami keperibadian, pada masa itu lah pasangan masing-masing sedang menjadi pelakon terbaik, melakukan penyamaran yang amat tersembunyi terhadap pasangannya.

Maka, oleh sebab itu tidak sedikit kegagalan dalam membangun rumah tangga yang diawali dengan berpacaran.

Mengapa ini terjadi?….Mengapa pernikahan yang didirikan atas dasar berpacaran tidak akan bertahan lama?, Kerana apa yang selama ini ditutupi telah tersingkap, karena pernikahan yang seharusnya menjadi luar biasa menjadi biasa, maka nyata emas dari loyang telah jelas benang dan suteranya.

Tidak mungkin mawaddah dan rahmah yg begitu mulia dan indah bisa tumbuh dengan sempurna kecuali dalam pernikahan yang sah dan cinta yang dibangun selepas pernikahan.

Seharusnya, setelah menikah baru muncul mawaddah dan mahabbah. Setelah menikah baru timbul rasa kasih sayang. Ini selaras dengan Kalamullah yang mengatakan hanya dengan selepas pernikahan, maka Allah akan menjadikan rasa cinta, kasih dan sayang kepada suami dan isteri.

Salah Dalam Pembuktian Cinta :

Bukan dengan bunga mawar yang diberikan dengan berlutut….

Bukan dengan coklat dalam bingkisan pita…..

Apalagi pembuktian cinta dengan melepas keperawanan….. wal’iyadzu billah

Sekali lagi, pembuktian cinta hanya dengan menikah ….!

Waspada Cinta Buta :

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah berkata,

هويتك إذ عينى عليها غشاوة … فلما انجلت قطعت نفسي ألومها

“Kecintaanku kepadamu menutup mataku
Namun ketika terlepas cintaku, semua aibmu menampakkan diri

 

Cinta Terlarang

 

Untaian sya’ir :
Ia larut dalam gelombang cinta yang membara
Dan ketika cintanya surut, ia tak lagi berdaya
Gelombang ombak ia tak sangka sebagai riak
Saat menggulung, ia tenggelam berteriak
Dia berharap dosanya tersisir
Namun dia tak sanggup lagi untuk berpikir”

 

PENUTUP

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” (Fathul Bari, 13: 395)

Dengan merenungkan hal ini, semoga Allah memberi taufik pada Anda yang masih ragu untuk menikah untuk segera menuju pelaminan.

Berusahalah dalam mengais rizki dan tawakkal pada Allah, niscaya akan selalu ada jalan keluar. Barangkali di awal nikah atau ingin beranjak, Anda akan penuh rasa khawatir atau merasa berat dalam hidup.

Namun jika Anda yakin terhadap hal di atas, niscaya kekhawatiran akan beralih menjadi percaya dan rizki pun akan datang dengan mudah, asalkan berusaha dan terus bekerja demi menghidupi keluarga.

Terkadang kita sedih ketika dengar ada laki-laki yang sudah matang secara usia tapi menunda nikah karena gak yakin akan bisa menghidupi keluarganya.

Dan terenyuh saat mendapati sebagian remaja putri yang tak siap berjuang dari nol, susah payah jatuh bangun di masa-masa awal pernikahan.

Padahal ini masalah iman. Masalah keyakinan kita pada Allah yg telah berjanji akan memampukan mereka yg menggenapkan separuh agama.

Menikah : Tak perlu menunggu kaya, tak harus dengan yang kaya.

Menikahlah, maka kamu akan kaya…

Semoga yang belum yakin untuk menikah, segera Allah beri kemantapan hati dan kegigihan mempersiapkan serta memantaskan diri.

Semoga kelak Allah pertemukan dengan permaisuri/pangeran terbaik, di waktu terbaik, dengan cara terbaik dan dalam kondisi terbaik.

Semoga rumah tangga kita semua Allah beri kelancaran rezeki, kebarokahan harta. Berkah berlimpah, hingga sanggup menebar kemanfaatan yang lebih luas dengan harta kita.
Dan yg paling penting, moga keluarga-keluarga kita bisa samara sampai berhimpun kembali di surga-Nya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

 

Disusun dari berbagai sumber

وبالله التوفيق والسداد