PENUTUPAN DONASI WAKAF RENOVASI MASJID JAMI’ IBNU ‘UTSAIMIN Bismillah.. Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmush shoolihaat.. Donasi wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo per tanggal 26 Maret 2020 terkumpul Rp 1.088.853.190,- dari kebutuhan dana Rp 1.052.000.000,- Alhamdulillah ada kelebihan donasi sejumlah Rp 36.853.190,- Kelebihan donasi tersebut akan kami alokasikan untuk pembelian karpet, sound system serta perabot dalam masjid. Jazaakumulloohu khairon wabaarakalloohu fii ahlikum wa maalikum kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari hartanya, mudah-mudahan Alloh memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. Demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu menyebarkan info proyek wakaf ini, kami ucapkan Jazaakumulloohu khairon. Maka dengan ini, program wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin kami tutup. CP: 0815 4879 3106 Drs. Muhammad Syahli WS Wa billahit taufiiq. Pimpinan Pesantren Ustadz Aris Sugiyantoro

Memilih Tangan Terbakar

Memilih Tangan Terbakar

 

Sebuah kisah yang diceritakan oleh Wahb bin Munabbih, bahwa dahulu ada seorang ahli ibadah Bani Israil yang tinggal di dalam biara mengerjakan ibadahnya. Selanjutnya, ada seorang lelaki dari kalangan kaum Bani Israil mendatangi seorang wanita tuna susila, kemudian memberinya sejumlah uang seraya berkata : “ Kamu aku tugaskan untuk menggodanya “.

 

Wanita itu datang ke biaranya pada malam hari saat hujan, lalu memanggilnya. Ia melihatnya dan wanita itu berkata : “ Berilah aku tempat bernaung di dalam biaramu !. Namun si ahli ibadah itu tidak memperdulikannya dan kembali masuk ke dalam biara melanjutkan shalatnya.

 

Wanita itu kembali memanggil : “ Hai hamba Allah , berilah aku tempat bernaung di dalam biaramu. Tidakkah engkau lihat malam yang gelap lagi hujan ini ?” Wanita itu terus – menerus meminta tolong hingga akhirnya si ahli ibadah itu memberinya tempat bernaung di dalam biaranya. Setelah masuk , wanita itu berbaring di dekat si ahli ibadah seraya memperlihatkan kecantikan tubuhnya.

 

Lama – kelamaan birahinya pun timbul dan hawa nafsunya menyerunya untuk menggauli wanita itu, namun dia berkata kepada dirinya sendiri : “ Tidak demi Allah , aku akan melihat terlebih dahulu kesabaranmu terhadap api “. Kemudian dia bangkit menuju ke tempat pelita dan meletakkan salah satu jarinya ke dalam api hingga terbakar. Sesudah itu ia kembali melanjutkan ibadah shalatnya, namun hawa nafsunya kembali menyerunya untuk berbuat mesum dengan wanita itu, kemudian ia bangkit menuju ke tempat pelita dan kembali memasukkan jari lainnya ke dalam api pelita hingga terbakar. Setiapa kali hawa nafsunya mengajaknya untuk berbuat mesum. Ia kembali ke pelita hingga semua jari-jemarinya terbakar, sementara wanita itu menyaksikan pemandangan yang mengerikan itu , akhirnya ia sendiri yang pingsan karena ketakutan , kemudian meninggal dunia saat itu juga.

 

Disadur dari: Kitab Raudhatul Muhibbin, Karya Imam Ibnu Qoyyim Al Juiziyah, Hal : 878 )

You May Also Like