PENUTUPAN DONASI WAKAF RENOVASI MASJID JAMI’ IBNU ‘UTSAIMIN Bismillah.. Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmush shoolihaat.. Donasi wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo per tanggal 26 Maret 2020 terkumpul Rp 1.088.853.190,- dari kebutuhan dana Rp 1.052.000.000,- Alhamdulillah ada kelebihan donasi sejumlah Rp 36.853.190,- Kelebihan donasi tersebut akan kami alokasikan untuk pembelian karpet, sound system serta perabot dalam masjid. Jazaakumulloohu khairon wabaarakalloohu fii ahlikum wa maalikum kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari hartanya, mudah-mudahan Alloh memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. Demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu menyebarkan info proyek wakaf ini, kami ucapkan Jazaakumulloohu khairon. Maka dengan ini, program wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin kami tutup. CP: 0815 4879 3106 Drs. Muhammad Syahli WS Wa billahit taufiiq. Pimpinan Pesantren Ustadz Aris Sugiyantoro

Ustadz Abu Qotadah Berikan Nasehat Di Hadapan Santri Al Ukhuwah (Sabtu, 3/9/2016)

Ada yang berbeda pada Sabtu (3/9) malam kemarin. Para santri tampak tidak meninggalkan masjid setelah shalat maghrib usai dilaksanakan. Tak lama, sejumlah santri membawa masuk sebuah meja dan kursi tepat di depan mimbar imam Masjid Ibnu Utsaimin. Sejurus kemudian sesosok dengan gamis putih dan imamah khas timur tengah duduk di kursi menghadap para santri. Setelah diperkenalkan oleh moderator, Ustadz Ali Mukti, S.Pd.I., ternyata beliau adalah Ustadz Abu Qotadah, mudir Ponpes Ihyaus Sunnah Tasikmalaya.

Ustadz yang pernah menimba ilmu kepada Muhaddits dari Yaman, Syaikh Muqbil bin Hadi Al Wadiy ini, memberikan nasehat kepada santri  tentang “Peran Pemuda Di Dalam Islam”. Tak hanya santri MSW, para santri dari marhalah lain pun ikut khusuk mendengarkan nasehat dari beliau.

“Di dalam Al Qur’an, “ terang Ustadz Abu Qotadah, “banyak disebutkan kisah tentang pemuda.” Kemudian beliau menyebutkan beberapa kisah para pemuda yang menakjubkan di dalam Al Qur’an, diantaranya tentang kisah Nabi Ibrahim yang dengan keimanan yang kuat berusaha menyingkirkan kesyirikan di tengah kaumnya. Begitu pula kisah Nabi Dawud dan Thalut, kisah Nabi Sulaiman, kisah Nabi Musa dan para anbiya lainnya yang menunjukkan bahwa masa muda adalah masa keemasan untuk berkarya dan beramal. “Makanya, tidak pernah kita dengar tentang kisah kakek-kakek didalam Al Qur’an,” terang Ustadz asal Jawa Barat ini.

Selain menyebutkan kisah tentang para nabi yang mengukir kejayaan di masa muda mereka, Ustadz Abu Qotadah juga menyebutkan kisah tentang para salafus shalih yang menorehkan tinta emas di masa mudanya. Adalah kisah Ibnu Abbas, seorang pemuda shalih nan cerdas, yang dengan hujjahnya yang kuat mampu menyadarkan tak kurang dari 4000 orang khawarij untuk rujuk kepada pemahaman yang benar. Juga Abu Hurairah, pemuda shalih yang berkhidmat kepada Rasulullah, salah seorang sahabat yang meriwayatkan hadits terbanyak. Anas bin Malik pembantu Rasulullah juga merupakan potret pemuda yang mencurahkan masa mudanya demi ilmu sehingga menuai kemuliaan di masa tuanya.

“Saya akan mengakhiri pertemuan malam ini dengan kisah seorang pemuda yang baru berumur 18 atau 22 tahun, namun mampu merebut Konstantinopel dari tangan Romawi, dialah Muhammad Al Fatih.” Pungkas Ustadz Abu Qotadah. Kisah tentang Muhammad Al Fatih menutup pertemuan pada malam hari itu. Beliau berharap para santri yang notabene-nya adalah para pemuda untuk dapat memaksimalkan masa keemasan mereka dalam ketaatan, karena tumbuh di lingkungan pesantren yang berkhidmat kepada ilmu adalah sebaik-baik dan seagung-agungnya nikmat. (aaga)

You May Also Like