Kunjungan Syaikh Dr. Usamah bin Abdil Karim Hasan Al-Louh hafidzahullahu ta’ala

Alukhuwah.Com — Pada Selasa, 18 Agustus 2026 M / 5 Rabiul Awwal 1448 H, Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo mendapatkan kesempatan berharga dengan kedatangan tamu dari Palestina, yaitu Syaikh Dr. Usamah bin Abdil Karim Hasan Al-Louh hafidzahullahu ta’ala.

Dalam kunjungan tersebut, Syaikh didampingi oleh Ustadz Aris Sugiyantoro, Mudir Pondok Pesantren Al Ukhuwah. Beliau berkesempatan menyampaikan ceramah dan nasihat kepada kaum muslimin, santri, dan seluruh aktivis dakwah di Masjid Ibnu Utsaimin dengan tema “Ujian Kaum Muslimin di Palestina”.

Kehadiran beliau menjadi kesempatan yang sangat berharga bagi para santri untuk mengambil faedah dari nasihat, pengalaman, dan ilmu yang disampaikan, sekaligus menjadi motivasi untuk terus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, menjaga adab, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Semoga Allah ﷻ memberikan keberkahan kepada majelis ini, memberikan manfaat kepada kaum muslimin dan para santri, serta menjaga dan meneguhkan mereka di atas ilmu dan amal saleh. — Redaksi


Ringkasan Kajian Bersama Syaikh dan Da’i dari Palestina

Lokasi: Masjid Jami’ Ibnu Utsaimin, Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo
Pemateri: Syaikh Dr. Usamah bin Abdil Karim Hasan Al-Louh hafidzahullahu ta’ala
Penerjemah: Al-Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro hafidzahullahu ta’ala
Tema: Ujian Yang Menimpa Kaum Muslimin Di Palestina


Semoga Allah menjadikan perkumpulan ini adalah perkumpulan yang dirahmati dan perpisahannya nanti adalah perpisahan yang dilindungi.

Allah telah menjadikan bumi Palestina adalah bumi yang diberkahi, memiliki tempat istimewa, serta bumi yang bersejarah. Namun saat ini bumi Palestina dalam keadaan yang penuh dengan musibah, pembunuhan, pemboikotan, dan lainnya.

Keadaan yang sekarang dialami bumi Palestina terutama di wilayah Ghazza adalah sebuah gambaran dari apa yang pernah Allah firmankan dalam Al-Qur’an:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Pelaku perusakan di bumi Palestina adalah orang-orang angkuh dan sombong Zionis Yahudi. Mereka melakukan semua itu didasari oleh sebab agama atau aqidah yang diyakini oleh penduduk Palestina. Di sisi lain, penduduk Palestina pun melawan para penjajah Zionis Yahudi tersebut dengan aqidah yang mereka yakini sampai saat ini.

Negeri Palestina adalah negeri yang diberkahi oleh Allah. Sebagaimana firman Allah tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Luth ‘alaihimas salam:

وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya (negeri Palestina) untuk sekalian manusia.” (QS. Al-Anbiya: 71)

Allah juga berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘alaihis salam:

وَلِسُلَيْمَٰنَ ٱلرِّيحَ عَاصِفَةً تَجْرِى بِأَمْرِهِۦٓ إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا ۚ وَكُنَّا بِكُلِّ شَىْءٍ عَٰلِمِينَ

“Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang Kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Anbiya: 81)

Keistimewaan Masjid Al-Aqsha

Negeri Palestina adalah negeri yang diberkahi dengan keberadaan Masjid Al-Aqsha. Di antara keistimewaan Masjid Al-Aqsha adalah:

  1. Kiblat Pertama Kaum Muslimin

    Kiblat pertama kaum Muslimin adalah Masjid Al-Aqsha di Palestina hingga Nabi dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah. Dari situlah kurang lebih 16 atau 17 bulan setelahnya, Allah perintahkan untuk mengubah kiblat ke arah Ka’bah di Makkah. Allah Ta’ala berfirman:

    قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

    “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al-Baqarah: 144)

  2. Masjid Kedua yang Dibangun di Muka Bumi

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya, “Masjid apakah yang pertama kali ada di muka bumi?”

    قَالَ: اَلْمَسْجِدُ الْحَرَامُ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Masjidil Haram.”

    “Kemudian apa lagi?”

    قَالَ: اَلْمَسْجِدُ اْلأَقْصَى

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Masjid Al-Aqsha.”

    Beliau ditanya lagi, “Berapa jarak (pembangunan) antara keduanya?”

    قَالَ: أَرْبَعُوْنَ عَامًا

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Empat puluh tahun.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

  3. Salah Satu Masjid yang Dibolehkan Berniat Safar Menujunya dalam Rangka Ibadah

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

    لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

    “Tidak dibolehkan melakukan perjalanan (safar ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah (Masjid Nabawi), dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  4. Tempat Peristiwa Isra’ dan Mi’raj serta Tempat Shalat Bersama Para Nabi dan Rasul ‘Alaihimussalam
    سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

    “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’: 1)

    Dalam hadits disebutkan:

    “… Tibalah waktu shalat, maka aku mengimami mereka (para Nabi dan Rasul). Setelah aku selesai shalat, ada seseorang berkata: ‘Wahai Muhammad, ini Malik penjaga neraka. Sampaikan salam kepadanya.’ Maka aku menoleh kepadanya, dan ternyata ia yang lebih dahulu memberi salam kepadaku.” (HR. Muslim)

  5. Allah Akan Mengampuni Dosa Orang yang Shalat di Masjid Al-Aqsha Seperti Saat Dia Dilahirkan oleh Ibunya

    Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

    أَنَّ سُلَيْمَانَ بْنَ دَاوُدَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا بَنَى بَيْتَ الْمَقْدِسِ سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خِلَالًا ثَلَاثَةً: سَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حُكْمًا يُصَادِفُ حُكْمَهُ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِهِ فَأُوتِيَهُ، وَسَأَلَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حِينَ فَرَغَ مِنْ بِنَاءِ الْمَسْجِدِ أَنْ لَا يَأْتِيَهُ أَحَدٌ لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ فِيهِ أَنْ يُخْرِجَهُ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. (وَفِي رِوَايَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَمَّا اثْنَتَانِ فَقَدْ أُعْطِيَهُمَا وَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ قَدْ أُعْطِيَ الثَّالِثَةَ)

    “Sesungguhnya ketika Sulaiman bin Dawud alaihissalam membangun Baitul Maqdis, ia meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tiga perkara: (1) Meminta agar diberi taufiq dalam memutuskan hukum yang menepati hukum-Nya, lalu dikabulkan; (2) Meminta dianugerahi kerajaan yang tidak patut diberikan kepada seorang pun setelahnya, lalu dikabulkan; dan (3) Memohon bila selesai membangun masjid, agar tidak ada seorang pun yang datang ke situ tanpa tujuan lain kecuali shalat, melainkan dikeluarkannya dari kesalahannya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya.”

    Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Adapun yang dua perkara telah diberikan, dan aku berharap perkara yang ketiga pun dikabulkan.” (HR. An-Nasa’i, Ahmad, dan Ibnu Majah)

  6. Shalat Sekali di Masjid Al-Aqsha Sebanding Pahalanya dengan 250 Kali Shalat di Masjid Lain (Selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi)

    Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

    تَذَاكَرْنَا وَنَحْنُ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهُمَا أَفْضَلُ: أَمَسْجِدُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمْ بَيْتُ الْمَقْدِسِ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَرْبَعِ صَلَوَاتٍ فِيْهِ، وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى هُوَ، وَلَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَكُونَ لِلرَّجُلِ مِثْلُ شَطَنِ فَرَسِهِ (وَفِي رِوَايَةٍ: مِثْلُ قَوْسِهِ) مِنَ الْأَرْضِ حَيْثُ يُرَى مِنْهُ بَيْتُ الْمَقْدِسِ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

    “Kami saling bertukar pikiran ketika di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mana yang lebih utama, Masjid Rasulullah atau Baitul Maqdis? Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Satu shalat di masjidku ini lebih utama dari empat kali shalat padanya (Masjid Al-Aqsha), dan ia adalah sebaik-baik tempat shalat. Sungguh hampir tiba suatu masa, seseorang memiliki tanah seukuran tali kekang kudanya (dalam riwayat lain: seukuran busur panahnya) yang darinya terlihat Baitul Maqdis, itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.’” (HR. Al-Hakim, At-Thabrani, dan Al-Baihaki)

  7. Masjid Al-Aqsha Adalah Sebaik-baik Tempat Shalat

    Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abu Dzar di atas:

    وَلَنِعْمَ الْمُصَلَّى هُوَ

    “… dan ia (Masjid Al-Aqsha) adalah sebaik-baik tempat shalat.”

  8. Salah Satu Masjid yang Tidak Akan Dimasuki Dajjal

    Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

    لَا يَأْتِي أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ: الْكَعْبَةَ، وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَالطُّورَ

    “Dia (Dajjal) tidak akan mampu memasuki empat masjid: Ka’bah (Masjidil Haram), Masjid Rasul (Masjid Nabawi), Masjid Al-Aqsha, dan Masjid Ath-Thur.” (HR. Ahmad)

Keistimewaan Negeri Palestina Secara Umum

  1. Penduduk Palestina adalah penduduk terbaik di muka bumi.
  2. Di Palestina pernah terjadi satu-satunya peristiwa matahari tertahan untuk Nabi Yusya’ bin Nun ‘Alaihis Salam.
  3. Bumi Palestina adalah bumi para Nabi. Di antara para Nabi, ada yang lahir di sana, berdakwah di sana, hijrah ke sana, dan wafat pula di sana.
  4. Nabi Musa ‘Alaihis Salam berdoa saat maut akan menjemput beliau agar didekatkan ke Baitul Maqdis (Palestina).

Ikhtiar Agar Kemerdekaan Palestina Dapat Terwujud

  1. Menegakkan tauhid.
  2. Menumpas kesyirikan.
  3. Istiqomah di atas amal saleh.
  4. Melakukan wasilah-wasilah pendukung.

Ditulis oleh: Ahmat Imron Al-Fanghony
(Selasa, 18 Agustus 2026 M :: Masjid Jami’ Ibnu Utsaimin Ponpes Al-Ukhuwah Sukoharjo)

Back to top button