PENUTUPAN DONASI WAKAF RENOVASI MASJID JAMI’ IBNU ‘UTSAIMIN Bismillah.. Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmush shoolihaat.. Donasi wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo per tanggal 26 Maret 2020 terkumpul Rp 1.088.853.190,- dari kebutuhan dana Rp 1.052.000.000,- Alhamdulillah ada kelebihan donasi sejumlah Rp 36.853.190,- Kelebihan donasi tersebut akan kami alokasikan untuk pembelian karpet, sound system serta perabot dalam masjid. Jazaakumulloohu khairon wabaarakalloohu fii ahlikum wa maalikum kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari hartanya, mudah-mudahan Alloh memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. Demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu menyebarkan info proyek wakaf ini, kami ucapkan Jazaakumulloohu khairon. Maka dengan ini, program wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin kami tutup. CP: 0815 4879 3106 Drs. Muhammad Syahli WS Wa billahit taufiiq. Pimpinan Pesantren Ustadz Aris Sugiyantoro

Mayat Berjalan

Mayat Berjalan

Sebuah keanehan apabila mendengar mayat bisa berjalan, merinding rasanya, bulu kuduk pun berdiri, kita pun akan lari bila berpapasan dengan mayat yang berjalan, sepertinya mustahil hal itu terjadi, akan tetapi ternyata tanpa kita sadari mungkin saja banyak mayat-mayat yang berjalan disekitar kita, atau bahkan mungkin kita termasuk mayat yang berjalan tersebut. Sebuah hadist yang memberikan perumpaan orang yang hidup dan yang mati,

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabbnya dan tidak berdzikir bagaikan orang hidup dan orang mati.” [HR. Al-Bukhari dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِى يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتِ الَّذِى لاَ يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ مَثَلُ الْحَىِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah padanya dan yang tidak disebut nama Allah padanya bagaikan orang hidup dan orang mati.” [HR. Muslim dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]

Dan sabda beliau shallallahu’alaihi wa sallam,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ

“Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqoroh.” [HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu].

Sebuah perumpamaan yang membuat sesorang semangat untuk menjadi hamba Allah sejati yang menghiasi kehidupannya dengan penuh berzikir kepada-Nya sehingga dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan tidak membuangnya dengan penuh kesia-siaan. Sungguh memanfaatkan dalam kebaikan merupakan suatu yang membutuhkan perjuaangan. Imam Ibnu qayyim rahimahullah mengatakan, “Memanfaatkan waktu lebih berat daripada memperbaiki masa lalu dan masa depan. Memanfaatkan waktu berarti melakukan amal-amal paling utama, paling berguna bagi diri dan paling banyak membawa kebahagiaan. Dalam hal ini manusia terbagi menjadi beberapa tingkatan. Demi Allâh, itulah kesempatanmu mengumpulkan bekal untuk menyongsong akhirat, ke surga ataukah ke neraka….”( al-Fawâ’id, hlm. 115).

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Merupakan hak Allâh atas hamba-Nya di setiap waktu yang berlalu dalam hidupnya untuk menunaikan kewajiban ubudiyah yang ia persembahkan kepada Allâh dan untuk mendekatkan dirinya kepada-Nya. Jika seorang hamba mengisi waktunya dengan ibadah yang wajib ia lakukan, maka ia akan maju menuju Allâh. Sebaliknya, jika ia isi dengan mengikuti hawa nafsu, bersantai ria atau menganggur, ia akan mundur. Seorang hamba kalau tidak melangkah maju, ia pasti bergerak mundur. Tidak ada yang berhenti di tengah jalan. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَتَقَدَّمَ أَوْ يَتَأَخَّرَ

(yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur [ al-Mudattsir/74:37][ al-Fawâ’id, hlm. 187-188]

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Jika tidak maju, ia pasti mundur. Seorang hamba senantiasa berjalan, tidak berhenti. Kalau tidak ke atas, pasti ke bawah; Kalau tidak maju, pasti mundur…..Itulah detik-detik kehidupan yang berlalu dengan cepat menuju surga atau neraka! Ada yang melaju cepat dan ada pula yang bergerak lamban. Ada yang terus maju dan ada pula yang mundur. Tidak ada seorangpun yang berhenti di tengah jalan! Hanya saja dalam perjalanan ini ada yang berbeda arah tujuan dan ada pula yang berbeda akselerasi kecepatannya!”( Madârijus Sâlikîn, I/267). ( Madârijus Sâlikîn, I/267).

Ibnul Qayyim rahimahullah juga berkata, “Barangsiapa tidak mengisi waktunya untuk Allâh dan dengan petunjuk Allâh maka baginya mati lebih baik daripada hidup ! Apabila seorang hamba sedang mengerjakan shalat, maka ia hanya memperoleh bagian shalat yang ia lakukan dengan khusyuk. Ia tidak memperoleh bagian apapun dari hidupnya kecuali yang dijalaninya dengan petunjuk Allâh dan ditujukannya semata-mata untuk Allah ( ad-Dâ’u wad Dawâ’, hlm. 186 ).

Semoga kita termasuk orang yang bisa memanfaatkan hidup dengan memperbanyak berzikir kepada Allah Ta’ala sehingga termasuk orang yang hidup hatinya, dan bukan termasuk orang yang mati hatinya bagaikan mayat hidup yang berjalan.

 

Ponpes ” Al Ukhuwah ” Joho Sukoharjo,

Jum’at, 27 Jumadil awal 1438 H / 24 Pebruari 2017 M.

 

You May Also Like