PROGRAM WAKAF GENSET PONDOK PESANTREN AL UKHUWAH SUKOHARJO Pintu-pintu pahala itu amatlah banyak dan beragam. Tidak sempit dan terbatas seperti yang dikira oleh sebagian orang. Insan yang berilmu memanfaatkan ilmunya untuk mendulang pahala dengan mengajarkannya pada masyarakat. Orang yang dikaruniai kekuatan fisik akan menggunakannya untuk berjuang di jalan Allah. Orang kaya bisa memanfaatkan hartanya untuk mendukung kegiatan Islam. Pahala yang akan didulangnya pun insyaAllah tidak akan kalah dengan pelaku dakwah. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam menjelaskan, مَنْ جَهَّزَ غَازِيًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَقَدْ غَزَا “Siapa yang menyiapkan kebutuhan seorang yang berperang fi sabilillah maka sungguh ia telah ikut berperang”. Alhamdulillah Pondok Pesantren Al Ukhuwah telah melaksanakan pembelian dan pemasangan 2 unit Diesel Generating Set (Genset) V GEN 80 KVA untuk pondok putra dan V GEN 50 KVA untuk pondok putri. Pemasangan Alhamdulillah telah dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 24 Maret 2019 yang lalu, pondok putra di sebelah timur pos security, adapun pondok putri di halaman dalam gerbang timur. Pengadaan genset ini sangatlah urgen karena seringkali terjadi pemadaman listrik oleh pihak PLN di daerah sekitar Pondok Pesantren Al Ukhuwah sehingga hal tersebut dirasa sangat mengganggu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), aktivitas kantor, kebutuhan air bersih ustadz /santri & kegiatan tahfizh yang pelaksanaannya pada pagi setelah Subuh dan sore/malam. Terlebih lagi sekarang ini UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer) diwajibkan untuk kelas 12 MA yang tempat pelaksanaannya di pondok putra dan putri secara terpisah. Ujian ini sifatnya online sehingga pada saat pelaksanaannya tidak boleh ada gangguan listrik. Adapun spesifikasi 2 unit genset tersebut adalah sebagai berikut: GENSET PERTAMA: Merk : V GEN Kapasitas : 80 KVA Tipe Engine : R6105ZD Generator : V-GEN SET Model : Silent Type Harga : Rp 100.000.000,- Harga panel ATS 75 KVA:Rp 21.000.000,- Total : Rp 121.000.000,- GENSET KEDUA: Merk : V GEN Kapasitas : 50 KVA Tipe Engine : K4100ZD Generator : V-GEN SET Phase : 1 Phase Model : Silent Type Harga: Rp 77.500.000,- Harga panel ATS 45 KVA : Rp 17.500.000,- Total: Rp 95.000.000,- Total harga 2 unit genset : Rp 216.000.000,- Biaya pemasangan dan instalasi:Rp 77.100.000,- Jumlah : Rp 293.100.000,- Telah dibayar pondok dengan uang BOS:Rp 103.000.000,- Kekurangan / Dana Yang Di Butuhkan saat ini :Rp 190.100.000,- Dana Terkumpul : Rp 171.582.010,- Kekurangan :Rp 18.517.990,- Kami membuka kesempatan bagi kaum muslimin dan muslimat untuk ikut berpartisipasi beramal jariyah dalam program wakaf genset tersebut secara langsung atau melalui rekening : 1. Bank Muamalat ( Kode Bank 147 ) No. 7560.10.0123456789 Virtual Account a.n. Wakaf Al Ukhuwah 2. BNI Cab.Slamet Riyadi Solo ( Kode Bank 009 ) No. Rek. 0388645801 a.n : Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo Seberapapun wakaf dari Anda, pasti akan dicatat oleh Alloh. Setelah transfer, mohon konfirmasi via SMS / WA ke 0851 0008 3665 dengan format : Tanggal / Wakaf Genset/ Nama / Alamat / Jumlah / Rekening Contoh : 1 April 2018 / Wakaf Genset / Ahmad / Papua / 1.000.000 / Bank Muamalat INFO: Bp Drs. Muhammad Sahli WS 0815 4879 3106 Kami ucapkan jazaakumulloohu khayron wa baarokalloohu fi ahlikum wa maalikum, semoga Allah 'azza wa jalla menggantikan untuk Anda dengan yang lebih baik dan memberkahi keluarga dan harta Anda. Aamiin. Mohon ta'awunnya menyebarkan informasi ini. Semoga menjadi pemberat timbangan kebaikan kita di hari kiamat. Aamiin.

Adab Penuntut ilmu terhadap diri sendiri

Adab Penuntut ilmu terhadap diri sendiri

Al imam Ibnu qoyyim Al Jauziyah berkata : “ Adab seseorang merupakan alamat kebahagiaan dan kesuksesannya. Dan sedikitnya adab adalah alamat kesengsaraan dan kebinasaannya , maka tidaklah kebaikan dunia dan akhirat itu diperoleh seperti dengan cara adab, dan tidaklah sebab terhalangnya kebaikan dunia dan akhirat semisal dengan sebab sedikitnya adab.

Yusuf bin Husain berkata : “ Dengan adab engkau akan dapat memahami ilmu “.

Oleh karena itu dahulu para salaf perhatian dalam belajar adab seperti perhatian mereka dalam mempelajari ilmu.

Muhammad bin sirrin berkata : “ Dahulu mereka para salaf belajar adab/akhlak seperti mempelajari ilmu “.

Bahkan sebagian mereka mendahulukan belajar adab sebelum mempelajari ilmu.

Malik bin anas berkata kepada seorang pemuda quraisy  : “ Wahai anak saudaraku belajarlah adab sebelum belajar ilmu “.

Syaikh Sholeh Al Ushaimi berkata : “ Sesungguhnya kebanyakan penuntut ilmu pada zaman ini terhalang dari ilmu adalah dengan sebab menyia-nyiakan adab.

Dan beliau juga mengatakan : “ Ilmu hanyalah layak untuk orang yang beradab dengan adab ilmu pada dirinya, saat pelajaran, bersama guru dan sahabatnya “. ( Khulashoh Ta’dhimul iImi : 30 ).

Dan diantara adab seorang penuntut ilmu kepada diri sendiri adalah sebagai berikut :

  1. Mengikhlaskan niat hanya karena Allah.

Menuntut ilmu syar’i merupakan ibadah yang mulia sehingga mejmbutuhkan keikhlasan dalam menuntutnya. Keikhlasan juga merupakan prinsip utama untuk meraih kemuliaan sebagai seorang penuntut ilmu.

Imam Ahmad rahimahullah berkata : “ Ilmu merupakan sesuatu yang tidak tertandingi bagi yang benar dalam niatnya “. Mereka berkata bagaimana niat yang benar wahai abu abdillah ?. Beliau menjawab : Meniatkan untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain. (Hilyah tholibil ilmi : 7 ).

Kemuliaan menuntut ilmu akan berubah menjadi amalan yang rendah apabila kehilangan keikhlasan, bahkan Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

  1. Bersyukur dan gembira sebagai penuntut ilmu syar’i.

Imam Ibnu qoyyim berkata : “ Allah memerintahkan ahli ilmu supaya merasa senang dan gembira dengan nikmat ilmu yang telah diberikan, dan mengkabarkan bahwa ilmu lebih baik dari pada apa yang dikumpulkan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

( قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون ).

Artinya : “ Katakanlah : “ Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira, karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan “.( Yunus : 58 ).

Dan karunia Allah ditafsirkan dengan makna iman, sedangkan rahmat-Nya bermakna Al qur’an. Iman dan Al qur’an keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh… ( Miftah daaris sa’aadah : 139 – 140 ).

  1. Rajin berdo’a memohon ilmu yang bermanfaat.

Doa bagi seorang penuntut ilmu merupakan hal yang sangat penting agar diberi kemudahan dan memperoleh ilmu yang bermanfa’at, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon ilmu yang bermanfaat :

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَ رِزْقًا طَيِّبًا وَ عَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfa’at, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (Ibnu Majah).

  1. Bersungguh – sungguh dalam menuntut ilmu.

Ilmu merupakan sesuatu yang berat sehingga membutuhkan kesungguhan dalam menuntutnya. Allah Ta’ala berfirman :

Kesungguhan juga merupakan sebab untuk memperoleh kesuksesan dalam menuntut ilmu. Sebagaima pepatah mengatakan :

من كانت بدايته محرقة كانت نهايته مشرقة

“ Barangsiapa semangat pada awalnya maka akan cerah pada akhirnya “

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhdap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi).

Imam Syafi’i berkata dalam sebuah syair :

 بقدرِ الكدِّ تُكتسبُ المَعــالي *** ومَنْ طَلبَ العُلا سَهرَ الليالي ومنْ رَامَ العُلا مِنْ غَيــرِ كــدٍّ *** أضاعَ العُمر في طَلبِ المُحال تَرومُ العزَّ ثُم تنامُ لًيـــــــــلاً *** يَغوصُ البَحرُ من طلبِ الـلآلي عُلوُّ القدرِ بالهمم العَــــوالي *** وعزُّ المَرءِ في سَهرِ الليـالــي.

“ Sesuai dengan kadar kesungguhan ( keletihan ) akan diperoleh perkara mulia “

“ Barang siapa  mencari kemuliaan akan bergadang pada malam harinya”

“ Barang siapa yang menginginkan sesuatu yang tinggi tanpa kerja keras maka dia telah menyia-nyiakan umurnya dalam mencari sesuatu yang mustahil”

“Engkau menginginkan kemuliaan sedangkan engkau ( banyak ) tidur pada malam hari”

“Orang yang mencari mutiara pun bersusah payah menyelami lautan “

“ Tingginya kedudukan sesuai dengan kadar himmah ( cita – cita ) yang tinggi”

“Dan kemuliaan seseorang terdapat pada bergadangnya pada malam hari ( dalam hal kebaikan )”

  1. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat.

Ilmu adalah cahaya sedangkan maksiat adalah kegelapan yang memadamkan cahaya ilmu, Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Padahal Imam Asy Syafi’i rahimahullah memiliki hafalan yang luar biasa, Beliau berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib, 1: 95-96).

  1. Tidak malu dan sombong.

Malu dan sombong merupakan penghalang seseorang untuk memperoleh ilmu, sebagaimana imam Mujahid telah mengatakan :

لا يتعلم العلم مستحي ولا مستكبر

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq).

  1. Diam dan mendengarkan baik – baik.

Memperhatikan pelajaran yang disampaikan merupakan sebab seorang penuntut ilmu paham terhadap materi yang disampaikan oleh seorang guru. Allah Ta’ala berfirman, “dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204)

  1. Menghafal ilmu yang telah diperoleh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

  1. Mengikat ilmu dengan mencatat pelajaran.

Seorang penuntut ilmu yang baik adalah yang tidak menyia-nyiakan ilmu sehingga ia mencatat faedah dan poin – poin penting yang telah disampaikan, karena ilmu bagaikan hewan buruan yang harus diikat agar tidak lepas.

  1. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

Ilmu bukanlah tujuan akhir karena ilmu dipelajari adalah untuk diamalkan, ilmu yang tidak

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri(HR, Ath-Thabrani)

Semoga Bermanfaat. Pesantren ”Al Ukhuwah” Joho Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kamis, 10 Jumadil Akhir 1438 H / 9 Maret 2017 M.

You May Also Like