Adab Tanda Kesuksesan

ADAB TANDA KESUKSESAN

 

 

Betapa sangat butuhnya seorang penuntut ilmu kepada adab dalam perjalanannya menimba ilmu, karena dengan adablah seseorang akan sukses dan berhasil memperoleh ilmu yang berkah.

 

Al imam Ibnu qoyyim Al Jauziyah berkata : “Adab seseorang merupakan alamat kebahagiaan dan kesuksesannya. Dan sedikitnya adab adalah alamat kesengsaraan dan kebinasaannya , maka tidaklah kebaikan dunia dan akhirat itu diperoleh seperti dengan cara adab, dan tidaklah sebab terhalangnya kebaikan dunia dan akhirat semisal dengan sebab sedikitnya adab. ( Madarijus Salikin : 2/368).

 

Kedudukan Adab Dalam Menuntut Ilmu :

 

Para ulama salaf dahulu terdahulu sangat perhatian dalam belajar adab seperti perhatian mereka dalam mempelajari ilmu. Sebagaimana Muhammad bin sirrin pernah berkata : “ Dahulu mereka para salaf belajar adab/akhlak seperti mempelajari ilmu “. (Tadzkirah As- sami’ : 4).

 

Bahkan para Ulama lebih mendahulukan belajar ilmu adab sebelum mempelajari suatu ilmu, sebagaimana Malik bin anas berkata kepada seorang pemuda quraisy: “ Wahai anak saudaraku belajarlah adab sebelum belajar ilmu “.(Khulashoh Ta’dhimul iImi : 30).

 

Belajar adab dalam menuntut ilmu juga merupakan sebab dan usaha agar bisa memahami suatu ilmu. Sebagaimana Yusuf bin Husain berkata: “ Dengan adab engkau akan dapat memahami ilmu “.( Khulashoh Ta’dhimul iImi : 30 ).

Sehingga sangat disayangkan apabila banyak dari para penuntut ilmu yang kurang perhatian terhadap adab dalam menuntut ilmu atau bahkan telah menyia-nyiakannya. Syaikh Sholeh Al Ushaimi berkata : “ Sesungguhnya kebanyakan penuntut ilmu pada zaman ini terhalang dari ilmu adalah dengan sebab menyia-nyiakan adab. Dan beliau juga mengatakan : “ Ilmu hanyalah layak untuk orang yang beradab dengan adab ilmu pada dirinya, saat pelajaran, bersama guru dan sahabatnya “. (Khulashoh Ta’dhimul iImi : 30).

Dan diantara adab seorang penuntut ilmu kepada diri sendiri adalah sebagai berikut :

 

  1. Mengikhlaskan niat hanya karena Allah.

 

Menuntut ilmu syar’i merupakan ibadah yang sangat mulia sehingga membutuhkan keikhlasan dalam menuntutnya. Keikhlasan juga merupakan prinsip utama untuk meraih kemuliaan sebagai seorang penuntut ilmu.

Imam Ahmad rahimahullah berkata : “ Ilmu merupakan sesuatu yang tidak tertandingi bagi yang benar dalam niatnya “. Mereka berkata bagaimana niat yang benar wahai abu abdillah ?. Beliau menjawab : Meniatkan untuk mengangkat kebodohan diri sendiri dan orang lain. (Hilyah tholibil ilmi : 7 ).

Kemuliaan menuntut ilmu akan berubah menjadi amalan yang rendah apabila kehilangan keikhlasan, bahkan Rasulullallah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

 

  1. Bersyukur dan gembira sebagai penuntut ilmu syar’i.

 

Imam Ibnu qoyyim berkata : “ Allah memerintahkan ahli ilmu supaya merasa senang dan gembira dengan nikmat ilmu yang telah diberikan, dan mengkabarkan bahwa ilmu lebih baik dari pada apa yang dikumpulkan manusia. Allah Ta’ala berfirman :

 

( قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ).

 

Artinya : “ Katakanlah : “ Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira, karunia dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan “.( Yunus : 58 ).

Dan karunia Allah ditafsirkan dengan makna iman, sedangkan rahmat-Nya bermakna Al qur’an. Iman dan Al qur’an keduanya adalah ilmu yang bermanfaat dan amal sholeh. ( Miftah daaris sa’aadah : 139 – 140 ).

 

  1. Rajin berdo’a memohon ilmu yang bermanfaat.

 

Doa bagi seorang penuntut ilmu merupakan hal yang sangat penting agar diberi kemudahan dan memperoleh ilmu yang bermanfa’at, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering memohon ilmu yang bermanfaat :

 

اللّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfa’at, rezeki yang baik, dan amalan yang diterima.” (Ibnu Majah).

 

  1. Bersungguh – sungguh dalam menuntut ilmu.

 

Ilmu merupakan sesuatu yang berat sehingga membutuhkan kesungguhan dalam menuntutnya. Allah Ta’ala berfirman :

( إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا ).

Artinya : “ Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.(QS. Al-Muzammil : 5).

Sehingga menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan yang merupakan sebab untuk memperoleh kesuksesan dalam menuntut ilmu. Sebagaimana pepatah mengatakan :

 

مَنْ كَانَتْ بِدَايَتَهُ مُحْرِقَةً كَانَتْ نِهَايَتُهُ مُشْرِقَةً

 

Artinya : “ Barangsiapa semangat pada awalnya maka akan cerah pada akhirnya“.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana seharusnya seseorang terus semangat dalam menuntut ilmu, beliau barsabda, “ Dua orang yang rakus yang tidak pernah kenyang: yaitu (1) orang yang rakus terhadap ilmu dan tidak pernah kenyang dengannya dan (2) orang yang rakus terhadap dunia dan tidak pernah kenyang dengannya.” (HR. Al-Baihaqi).

 

 

 

Imam Syafi’i berkata dalam sebuah syair :

 

 بقدرِ الكدِّ تُكتسبُ المَعــالي ومَنْ طَلبَ العُلا سَهرَ الليالي ومنْ رَامَ العُلا مِنْ غَيــرِ كــدٍّ أضاعَ العُمر في طَلبِ المُحال… تَرومُ العزَّ ثُم تنامُ لًيـــــــــلاً… يَغوصُ البَحرُ من طلبِ الـلآلي …عُلوُّ القدرِ بالهمم العَــــوالي… وعزُّ المَرءِ في سَهرِ الليـالــي.

 

“ Sesuai dengan kadar kesungguhan ( keletihan ) akan diperoleh perkara mulia “

“ Barang siapa  mencari kemuliaan akan bergadang pada malam harinya”

“ Barang siapa yang menginginkan sesuatu yang tinggi tanpa kerja keras maka dia telah menyia-nyiakan umurnya dalam mencari sesuatu yang mustahil”

“Engkau menginginkan kemuliaan sedangkan engkau ( banyak ) tidur pada malam hari”

“ Orang yang mencari mutiara pun bersusah payah menyelami lautan “

“ Tingginya kedudukan sesuai dengan kadar himmah ( cita – cita ) yang tinggi”

“ Dan kemuliaan seseorang terdapat pada bergadangnya pada malam hari ( dalam hal kebaikan )”

 

  1. Menjauhkan diri dari dosa dan maksiat.

 

Ilmu adalah cahaya sedangkan maksiat adalah kegelapan yang memadamkan cahaya ilmu, Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata :

 

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

 

Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatuth Tholibin, 2: 190).

Padahal Imam Asy Syafi’i rahimahullah memiliki hafalan yang luar biasa, Beliau berkata, “Aku telah menghafalkan Al Qur’an ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al Muwatho’ ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa.” (Thorh At Tatsrib :1/95-96).

  1. Tidak malu dan sombong.

 

Malu dan sombong merupakan penghalang seseorang untuk memperoleh ilmu, sebagaimana imam Mujahid telah mengatakan :

لَا يَتَعَلَّمُ العِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلَا مُسْتَكْبِرٌ

“Dua orang yang tidak belajar ilmu: orang pemalu dan orang yang sombong” (HR. Bukhari secara muallaq).

 

  1. Diam dan mendengarkan baik – baik.

 

Memperhatikan pelajaran yang disampaikan merupakan sebab seorang penuntut ilmu paham terhadap materi yang disampaikan oleh seorang guru. Allah Ta’ala berfirman :

 

( وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُون ).

Dan apabila dibacakan Al-Quran, maka dengarkanlah dan diamlah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raaf: 204).

 

  1. Menghafal ilmu yang telah diperoleh.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

( نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ).

 

“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi : 5 / 2658).

 

  1. Mengikat ilmu dengan mencatat pelajaran.

 

Seorang penuntut ilmu yang baik adalah yang tidak menyia-nyiakan ilmu sehingga ia mencatat faedah dan poin – poin penting yang telah disampaikan, karena ilmu bagaikan hewan buruan yang harus diikat agar tidak lepas.  Sebagaimana Umar bin Khattab radhiyallahu anhu berkata :

 

( قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ ).

Artinya : “ Ikatlah ilmu dengan tulisan “. ( Sunan Ad darimi : 1 / 514 ).

  1. Mengamalkan ilmu yang telah dipelajari.

 

Ilmu bukanlah tujuan akhir karena ilmu dipelajari adalah untuk diamalkan, ilmu yang tidak diamalkan bagaikan pohon yang tidak berbuah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

 ( مَثَلُ الْعَالِمِ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ ويَنْسَى نَفْسَهُ كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيءُ لِلنَّاسِ ويَحْرِقُ نَفْسَهُ )

 

Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia, kemudian ia melupakan dirinya (tidak mengamalkan ilmunya) adalah seperti lampu (lilin) yang menerangi manusia, namun membakar dirinya sendiri. (HR, Ath-Thabrani : 2 / 1681).

 

Back to top button