Kami ucapkan... Jazaakumullohu khoiron wa baarokallohu fii ahlikum wa maalikum kepada seluruh muhsinin / donatur yang telah ikut berpartisipasi dalam program wakaf pembebasan tanah (sebelah timur) Ponpes Al Ukhuwah Putri I Sukoharjo. Alhamdulillah, sampai saat ini donasi terkumpul Rp 951.759.167,- dari Rp 950.000.000,-(dana yang dibutuhkan). Dan dengan ini program wakaf pembebasan tanah Ponpes Al Ukhuwah Putri I Sukoharjo "DITUTUP". Kelebihan donasi akan kami gunakan untuk maslahat tanah tersebut seperti persiapan buat talud, jembatan dan pengurugan. Semoga menjadi amal jariyyah yang diterima di sisi Alloh dan semoga mendapatkan ganti yang lebih baik di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Jangan Kau Runtuhkan !

                               Jangan Kau Runtuhkan !

Seorang yang hidup diibaratkan membangun sebuah bangunan, lalu apakah yang harus ia bangun ? Sebuah impian, rumah ataukah istana ? Ternyata kita sedang membangun sebuah bangunan yang berupa amal baik atau buruk. Apabila seseorang mengerjakan sholat, puasa, dan sedekah misalnya maka pada hakikatnya dia sedang merintis sebuah bangunan amal sholeh . Seorang yang cerdas sudah selayaknya senantiasa membangun bangunan kebaikannya, menjaganya dan tidak meruntuhkannya.

Sebuah hadist yang menjadi sebuah renungan agar amal kebaikan yang telah dibangun tidak runtuh dan sia – sia. Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam bersabda :

 

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا ، فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ، قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، صِفْهُمْ لَنَا ، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ ، وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ ، قَالَ : أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ ، وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ ، وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ ، وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوهَا. ( رواه ابن ماجة ).

 

Artinya : “ Sungguh aku mengetahui sebuah kaum dari umatku yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala kebaikan sebesar gunung tihamah yang putih akan tetapi Allah menjadikan kebaikan tersebut menjadi debu yang bertebaran.Tsauban berkata : “ Wahai Rasulullah sifatkan sifat mereka kepada kami agar kami tidak menjadi seperti mereka sedangkan kami tidak mengetahuinya. Beliau menjawab : Adapun mereka adalah saudara kalian, sama dengan kulit kalian, menghidupkan malam ( dengan ibadah ) sebagaimana kalian, akan tetapi mereka adalah suatu kaum yang apabila sendiri dalam kesunyian mereka menerjang larangan Allah ( HR. Ibnu Majjah : 4245, dishahihkan syaikh al-Albani dalam as-silsilah ash-shahihah, no : 505).

Hadist tersebut menunjukkan bahayanya seseorang yang terlihat seolah – olah sholeh dalam keramaian akan tetapi menerjang kemaksiatan – kemaksiatan dalam kesendirian dan kesunyian, sehingga bisa meruntuhkan pahala amal kebaikannya, dia seolah – olah menjadi musuh setan dalam keramaian akan tetapi menjadi temannya dalam kesendirian, yang mana hal tersebut karena mengandung unsur lebih takut kepada manusia dari kepada Allah, lebih memperhitungkan pengawasan manusia dari pada pengawasan Allah Ta’ala.

 

Maka hal ini menunjukkan keutamaan orang yang takut kepada Allah dalam keadaan sendirian, yang mana akan mendapatkan ampunan dan pahala yag besar sebagaima Allah berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

 

Artinya :  Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. ( Al- Mulk : 12 ).

 

Akan tetapi betapa banyak orang yang merasa diawasi oleh manusia, akan tetapi ia melupakan pengawasan Allah Ta’ala, seorang penyair berkata :

 

         وإذا خلوت بريبة في ظلمة     والنفس داعية إلى الطغيان    

         فاستحي من نظر الإله وقل لها     إن الذي خلق الظلام يراني    

 

 

Jika engkau sendirian dalam keraguan ditengah kegelapan malam

Sedangkan hawa nafsu mengajak untuk berbuat melampaui batas

Maka malulah dari penglihatan Allah dan katakan pada jiwa

Sesungguhnya yang menciptakan kegelapan malam melihatku

 

Maka tidaklah boleh seseorang meremehkan dan menganggap rendah pengawasan Zat Yang maha mendengar lagi maha melihat. Sudah sepantasnya seorang mukmin berusaha untuk mencapai derajat ihsan dengan cara seolah – olah beribadah melihat Allah atau kalau tidak bisa maka ditanamkan dalam hati bahwasanya Allah melihat kita .

Semoga kita dikaruniakan rasa takut kepada Allah dalam keramaian dan kesendirian , sehingga bisa menghalangi kita dari berbuat kemaksiatan dan memperturutkan hawa nafsu. Amin.

 

Ustad Beni Setyawan Hanif.

Pesantren ”Al Ukhuwah”  Joho Sukoharjo,
Kamis, 12 Muharram 1438 H / 13 Oktober 2016 M.

 

You May Also Like