PENUTUPAN DONASI WAKAF RENOVASI MASJID JAMI’ IBNU ‘UTSAIMIN Bismillah.. Alhamdulillaahilladzii bi ni'matihii tatimmush shoolihaat.. Donasi wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin Pondok Pesantren Al Ukhuwah Sukoharjo per tanggal 26 Maret 2020 terkumpul Rp 1.088.853.190,- dari kebutuhan dana Rp 1.052.000.000,- Alhamdulillah ada kelebihan donasi sejumlah Rp 36.853.190,- Kelebihan donasi tersebut akan kami alokasikan untuk pembelian karpet, sound system serta perabot dalam masjid. Jazaakumulloohu khairon wabaarakalloohu fii ahlikum wa maalikum kami ucapkan kepada seluruh donatur yang telah menyisihkan sebagian dari hartanya, mudah-mudahan Alloh memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. Demikian juga kepada semua pihak yang telah membantu menyebarkan info proyek wakaf ini, kami ucapkan Jazaakumulloohu khairon. Maka dengan ini, program wakaf renovasi Masjid Jami’ Ibnu ‘Utsaimin kami tutup. CP: 0815 4879 3106 Drs. Muhammad Syahli WS Wa billahit taufiiq. Pimpinan Pesantren Ustadz Aris Sugiyantoro

Seindah Senyuman

Seindah Senyuman

 

Senyum manis sangatlah mudah, ringan, sekaligus berpahala, akan tetapi ternyata terasa berat bagi sebagian seseorang , apakah penyebabnya ?. Ketahuilah bahwa senyum manis yang indah adalah cerminan dari hati yang bersih dan suci, sehingga terasa hangat dan menimbulkan kegembiraan pada hati seseorang yang mendapatkan senyum manis dari saudaranya.

Sejatinya bersedekah tidaklah hanya sekedar dengan harta benda, akan tetapi menebar senyumpun  adalah suatu bentuk sedekah yang sangat ringan, sebagaimana Rasulullah Sholallahu alaihi wa sallam bersabda :

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ

Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu. ( HR. at-Tirmidzi (no. 1956), dan dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “ash-Shahihah” (no. 572).

Bahkan Rasulullah sholallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda : “

« لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ».

 “Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ceria“  ( HR. Muslim, no : 6857 ).

Maka selayaknya seorang muslim berusaha untuk selalu tersenyum dan berwajah ceria ketika bertemu saudaranya dengan tujuan memasukan kegembiraan ke dalam hatinya karena   mengharap pahala dari Allah Ta’ala. Dan sepatutnya seorang muslim menjauhi wajah yang bermuka musam dan cemberut, kerena hal ini menyebabkan saudara kita merasa tidak nyaman dan bahkan terkadang membuat seseorang berburuk sangka.

 

Mengenai hal ini Jabir bin abdillah radhiyallahu anhu pernah berkata :

 

مَا حَجَبَنِى النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – مُنْذُ أَسْلَمْتُ ، وَلاَ رَآنِى إِلاَّ تَبَسَّمَ فِى وَجْهِى

 

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di hadapanku  ( HR. Bukhori (no. 5739) dan Muslim (no. 2475).

 

Semoga kita semua termasuk orang yang senantiasa tersenyum dan berwajah ceria kepada saudara kita. Amin.

 

 

 

Ustad Beni Setyawan Hanif.

Pesantren ”Al Ukhuwah”  Joho Sukoharjo,
Rabu, 2 November 2016 M.

You May Also Like