Surat Rasulullah kepada Heraklius dan Sikapnya Terhadap Islam

Bismillah segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam , keluarga dan sahabatnya.

Para pembaca yang di rahmati Allah, kali ini kita akan bersama-sama belajar dan mengambil ilmu dari surat Rasulullah kepada para raja-raja.Ada banyak surat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau kirimkan ke raja-raja kafir di jazirah arab dan luar jazirah arab. Dalam salah satu buku sirah, kurang lebih ada 8 surat yang dikirimkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada raja-raja kafir sekitar Madinah. Salah satunya, raja Romawi, Heraklius.

  1. Sekilas sejarah Bangsa Rum (Romawi) dan Persia

Secara ringkas, kami paparkan sebagian sejarah tentang bangsa Romawi dan Persia yang diceritakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya (3/514—515). Beliau mengisahkan:

Bangsa Rum adalah keturunan al-‘Aish bin Ishaq bin Ibrahim, saudara sepupu Bani Israil. Dinamakan pula dengan Bani al-Ashfar.Mereka menganut agama orang-orang Yunani. Bangsa Yunani sendiri adalah keturunan Yafuts bin Nuh yang mereka adalah para penyembah bintang.

Bangsa Rum inilah yang membangun kota Damsyik (Damaskus) berikut tempat-tempat ibadahnya. Bangsa ini masih menganut agama mereka sampai datangnya ‘Isa al-Masih ‘alaihissalam, kira-kira selama 300 tahun. Setiap raja yang memerintah mereka, disebut “kaisar”.

Orang pertama yang masuk agama Nasrani dari raja-raja bangsa Rum adalah Konstantin. Namun kemudian orang-orang Nasrani  berselisih paham, di mana kemudian para pendetanya (melalui konsili/pertemuan Nicea tahun 325 M) merumuskan suatu undang-undang doktrin agama bagi negara dan mengubah agama Nabiyullah ‘Isa ‘alaihissalam. Mereka tambah dan kurangi agama Nabi ‘Isa ‘alaihissalam semau mereka (salah satu hasil “terpenting” adalah menetapkan Isa sebagai Tuhan melalui pemungutan suara. Mereka juga membuat berbagai acara perayaan atau peringatan serta membagi  tingkatan-tingkatan keuskupan atau kependetaan dalam beberapa tingkat seperti yang kita kenal sekarang ini (Paus, Uskup, dan sebagainya). Tak cuma itu, orang-orang Nasrani (Kristen) juga sangat keterlaluan dalam memuliakan dan mengagungkan kaisar.Yang jelas, mereka tetap memeluk agama tersebut hingga diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setiap mati seorang kaisar, muncul kaisar penggantinya, sampai akhirnya datang masa pemerintahan Heraklius.Heraklius termasuk seorang raja yang cerdas dan cermat.Kekuasaannya cukup besar dan luas, sehingga Kisra Persia Sabur memusuhinya.Padahal kerajaannya lebih luas daripada Kaisar (Heraklius). Sabur sendiri merupakan penganut Majusi (penyembah api).

  1. Isi Surat Rasulullah Kepada Heraklius

Disebutkan oleh Ibnu Abbas dalam sebuah kisah yang panjang, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengirim surat kepada raja Romawi, Heraklius.Selanjutnya dia mencari orang Mekah, yang saat itu sedang berdagang di Syam. Pada saat yang sama, ternyata Abu Sufyan sedang menjalankan bisnis di Syam. Terjadilah dialog antara raja dengan Abu Sufyan –sebelum ia masuk Islam- radhiallahu ‘anhu, membahas ciri-ciri nabi yang diutus di Mekah.

Selanjutnya Abu Sufyan menceritakan tentang isi surat yang dikirim Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Raja Heraklius:

Bismillahir rahmanir rahiim… Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya. Kepada Heraklius, raja Romawi. Keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya:

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling (tidak menerima) maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin. Katakanlah, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran: 64).

Hadis ini diriwayatkan Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan yang lainnya.

  1. Kisah Abu Sufyan dan Raja Heraklius

Begitu menerima surat dari Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Kaisar berkeinginan untuk melakukan penelitian untuk mengetahui kebenaran kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui orang-orang yang memiliki hubung erat dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Pilihannya jatuh pada orang-orang yang berasal dari kaumnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu kaum Quraisy.Saat itulah, Kaisar mendengar berita kedatangan sekelompok pedagang, diantara mereka ada Abu Sufyan dari Quraisy.Lalu Kaisar menyuruh agar orang-orang itu dibawa menghadap beliau dengan ditemani penerjemah.Waktu itu Abu Sufyan masih kafir.

Lalu, berlangsunglah dialog yang panjang antara Kaisar dengan Abu Sufyan. Kaisar bertanya kepada Abu Sufyan, “Siapakah diantara kalian yang paling dekat hubungan kekelurgaannya dengan orang yang mengaku Nabi ini ?” Abu Sufyan, “Saya orang yang paling dekat.”

Lalu Kaisar memintanya untuk mendekat dan akhirnya terjadilah dialog yang panjang tentang cirri-ciri kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sang Kaisar Romawi, Heraklius pernah bertanya tentang beberapa hal mengenai sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Sufyan yang punya kedekatan nasab dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa saja cerita Abu Sufyan mengenai Rasul kita pada Kaisar Romawi, Heraklius? Berikut di antaranya.

Dari Abu Sufyan bin Shakr bin Harb radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang tentang cerita raja Heraklius. Heraklius berkata, “Apa saja yang diperintah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Abu Sufyan berkata, “Aku lalu menjawab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Sembahlah Allah semata dan jangan berbuat syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun. Tinggalkanlah perkara jahiliyah yang dikatakan nenek moyang kalian.”Beliau juga menyuruh kami untuk shalat, berlaku jujur, benar-benar menjaga kesucian diri (dari zina) dan menjalin hubungan silaturahim (menjaga hubungan dengan kerabat.”(Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari no. 7 dan Muslim).

Di akhir dialog dia menyimpulkan bahwa semua ciri-ciri nabi yang dijelaskan dalam kitab Injil, Nabi yang mereka tunggu-tunggu ada pada diri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu Heraklius mengatakan, “Jika benar apa yang engkau beritakan, maka dia (maksudnya Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) kelak akan mampu menguasai wilayah yang dipijak oleh kedua kakiku ini. Saya yakin dia akan datang, namun saya tidak pernah menduga kalau dia berasal dari kalian”.

Heraklius berkata kepada utusan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu Dihyah bin al-Kalbi, “Sungguh saya tahu bahwa temanmu itu adalah seorang nabi yang diutus.Nabi yang kami tunggu-tunggu dan nabi yang kami dapatkan (keterangannya) dalam kitab kami. Namun saya takut orang-orang romawi akan membunuhku. Kalau bukan karena itu, tentu saya sudah mengikutinya.”

  1. Faidah dari kisah
  2. Pengiriman surat ini menunjukkan bahwa Islam diturunkan untuk manusia seluruh alam, oleh karena itu merupakan kewajiban Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memperkenalkannya dan mendakwahkannya kepada seluruh manusia dengan memanfaatkan sarana pra sarana yang ada kala itu.
  3. Penolakan sebagian raja atau tokoh salah satunya raja Heraklius terhadap Islam itu disebabkan oleh kecintaannya terhadap kekuasaan, kesombongan atau karena tertekan, bukan karena mereka tidak terima dengan Islam itu sendiri.
  4. Sebagian penguasa yang menyatakan keislamannya diperintahkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap diwilayahnya. Ini menunjukkan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki siasat dan taktik yang bagus dan sangat pandai dalam mengatur banyak urusan.
  5. Makna ‘seruan Islam’ adalah kalimat syahadah, dimana setiap pemeluk agama lain diajak untuk mengucapkan dua kalimat ini.
  6. Pahala dua kali adalah pahala yang berlipat, sejumlah orang yang mengikutinya untuk masuk Islam.
  7. Kaum Arisiyin adalah para pengikut dari kalangan keluarga kerajaan. Dosa Arisiyin ditanggung oleh Heraklius, karena posisi Heraklius sebagai pemimpin, sehigga diikuti anggota kerajaannya, termasuk dalam beragama.
  8. Kesimpulan yang bisa ditarik dari percakapan antara Heraklius dengan Abu Sufyan juga dengan Dihyah al-Kalbi Radhiyallahu anhu yaitu Heraklius sudah mengetahui dan meyakini kenabian Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,namun dia tetap tidak beriman. Ini menunjukkan kecintaan terhadap kekuasaan telah menghalangi dia dari memiliki jalan yang haq ini yaitu Islam.

(Abu Faqih Ahmad Imron Al Fanghony)

Pasukan Islam kala itu jumlahnya berkisar antara 36.000 sampai dengan 40.000 personel tentara. Di bawah komando Khalid bin walid radhiyallahu anhu. Melawan pasukan Romawi maju dengan membawa 240.000 personel terdiri dari  80 ribu pasukan pejalan kaki, 80 ribu pasukan berkuda dan 80 ribu pasukan . Pasukan lini depan dipimpin oleh Jarajah (George). Pasukan berkuda berkumpul di sekitar kemah Khalid  menunggu tentara Romawi yang lewat untuk dibunuh hingga waktu pagi tiba. Tadzariq pun terbunuh. Telah terbunuh pada hari itu 120.000 lebih pasukan Romawi. Adapun tentara Islam yang gugur di medan perang sebanyak tiga ribu pasukan. Kaum muslimin mendapat harta pampasan yang begitu banyak pada perang ini.

 

 

 

 

Back to top button